#Seri Bahas TUNTAS Taklukkan “Tes wawancara Beasiswa TURKI”

Di Balik Tembok” HR. Rasuna Said Kav.1 Part (II)

Hari-H: Mine was going like this…

Oleh : Elita Rachme Dwi Hanggiri 

Master Student di Jurusan Health Institution Management, Hacettepe University

Jum’at pagi itu saya berangkat sehabis subuh ke pool sebuah agen Travel di Bandung. Saya dapat giliran pertama?. Tidak. Email mengatakan wawancara saya pukul 1 siang. Tapi travel langganan saya kala itu sedang ada masalah dengan mobil kloter ke-5 yang dijadwalkan pukul 08.00, jadi mau tidak mau saya ambil satu kloter sebelumnya, karena jika saya ambil pemberangkatan ke-6 maka sampai di Jakarta giliran saya mungkin telah lewat. Pelajaran #1: Teknis pemberangkatan perlu disiapkan sejak jauh hari.

Sekitar pukul 09.00 pagi, saya sudah turun di hotel Kartika Chandra, sesuai instruksi seorang kawan. Dari situ saya naik taksi kembali ke arah saya datang, kemudian belok kiri dari Jalan Tol Dalam Kota. Belokan itu sudah masuk Jalan HR. Rasuna Said, markas berbagai kedutaan besar negara-negara lain, termasuk Turki. Tidak susah menemukan kedutaan Turki di Jakarta, karena letaknya benar-benar di pembuka jalan Rasuna Said itu. Bangunan pertama. Saya turun di depan pagar hitam bertahtakan lambang bulan bintang warna merah a la Turki. Begitu melihat saya, dari posnya yang berada di sisi kanan pagar itu, seorang satpam langsung bertanya, “wawancara beasiswa juga, mbak?”, “Sebelah sini”, lanjutnya tanpa menunggu jawaban saya. Saya masuk ke sebuah pintu kecil bersensor di samping pos satpam tadi. Setelah lolos dengan bunyi “teettt” sekali, saya hampiri satpam tersebut dari pintu dalam. Lagi-lagi sebelum saya tanya, bapak kurus tinggi ini langsung menjelaskan, “Tinggalkan KTP, tas dan hape dititipkan di sini, hanya berkas-berkas yang boleh dibawa ke dalam. Isi data diri, keperluan, dan tanda tangan di buku ini”, sembari menyorongkan sebuah buku besar di meja dekat pintu. Saya mengangguk mengerti, merogoh dompet di dalam tas, mengeluarkan KTP dan hape yang dengan sigap diletakkan satpam itu ke sebuah kotak berkolom banyak, setelah terlebih dulu melirik singkat KTP yang saya buat tahun 2009 itu. Setelah menggoreskan tanda tangan di buku tamu, saya coba lihat sekilas berapa banyak orang yang telah datang dengan keperluan yang sama di halaman-halaman sebelumnya, karena kemungkinan besar hari ini adalah hari terakhir interview, jadi saya bisa mengira-ngira berapa banyak saingan saya di tahap ini. Sejak Senin hingga saya datang kira-kira ada lebih dari 150 orang. Baiklah, lumayan banyak. Saya rapikan buku itu di sisi pojok meja, kemudian menghadap kembali ke arah bapak berseragam biru donker itu berdiri. “Wawancaranya di bangunan sebelah situ. Toilet ada di belakang pintu masuk tadi.”, terangnya sambil membuat isyarat arah dengan kelima jarinya, dan (lagi-lagi) sebelum sempat saya tanya. Hebat benar satpam kedutaan ini, praktis dan informatif. Terlatih membaca pikiran orang pula. Saya dari tadi memang butuh toilet. “Iya pak, makasih. Tapi saya tadi mau bilang assalamualaykum. Belum sempat nyapa bapak tadi”, kata saya sambil meringis. “Oh? iya, iya, wa’alaykumussalam”, jawabnya sambil terkekeh kecil. Pelajaran #2: sebarkan salam, akrabi semua orang.

Setelah menunggu cukup lama di belakang pos satpam sambil mengobrol santai dengan beberapa orang tua yang mengantarkan anak-anak mereka wawancara, saya putuskan untuk masuk ke dalam tempat wawancara. Hooo… ternyata sudah cukup banyak teman-teman yang menunggu gilirannya. Saya masuk, mulai berkenalan dan ngobrol dengan teman-teman ini. Setiap ada kawan yang telah selesai diwawancara, kami serbu tentang pengalamannya di dalam “ruang panas” tersebut. Hal ini berguna untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan tak terduga dari interviewer. Dan, tips yang selalu berhasil buat saya; saat berbincang dengan interviewee lain, tunjukkan bahwa kita adalah orang yang friendly dan kompeten untuk beasiswa ini, sekaligus mengukur persiapan peserta lain. Menurut saya, ini sangat penting untuk memboosting percaya diri kita sebelum masuk ke “arena pertempuran” di balik pintu berkusen hitam di samping ruang tunggu kami ini. Pelajaran #3: Menangkan interview sejak di ruang tunggu.

Seorang wanita yang kami kenal sebagai Miss Lenny, keluar dari pintu ruang wawancara. Satu tangannya memegang kertas daftar nama interviewee, sementara tangan lainnya mengusap perutnya yang sedang hamil besar kala itu. Setelah menyebut satu nama, ia mengumumkan bahwa wawancara akan dilanjutkan pukul satu siang setelah istirahat. Sebelum menutup kembali pintu hitam itu ia berkata, “Adek-adek, tolong bahasa Inggrisnya yang bagus ya. Interviewernya pada complain karena sedikit yang fluent berbahasa Inggris…”. Bagus, kita dapat Pelajaran #4 di sini: Berbahasa Inggris dengan lancar.

Setelah shalat dan sedikit makan di seberang kantor kedubes Turki bersama beberapa peserta lain, kami kembali ke ruang tunggu untuk menghadapi “nasib” kami. Dari “survey” seharian ini, saya tahu bahwa mulai tahun ini interviewers yang diterbangkan dari Turki ini berbeda-beda tiap harinya, background interviewers disesuaikan dengan background jurusan yang akan kami ambil di Turki. Ini sedikit membuat khawatir karena peluang mereka untuk bertanya lebih dalam tentang pengetahuan kita dalam ilmu tersebut akan lebih besar. Menit-menit terakhir ini, saya maksimalkan do’a.

Yak, nama saya dipanggil. Bismillah, saya masuk ke dalam ruangan yang sudah sebulan ini saya tebak-tebak bagaimana bentuknya. Di ujung ruangan yang seingat saya berperabot barang-barang berwarna sama dengan kusen pintunya, duduk dua orang laki-laki bule di belakang sebuah meja panjang. Interviewer pertama, sebut saja Mr.A, seorang laki-laki yang kelihatannya sudah berumur dan botak, sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya, seperti tidak menangkap kehadiran saya. Interviewer kedua jauh lebih muda, berdasi Hitam-Merah, dan berwajah ramah, sedang merapikan beberapa kertas di tangannya, yang ini Mr.B. Ada dua buah kursi kosong, satu di samping mereka, yang saya tangkap sebagai tempat duduk Miss Lenny, dan satu persis di depan meja mereka: “calon” kursi saya. Salah satu yang saya ingat dari pengalaman-pengalaman interview ADS atau Fullbright yang saya dapat dari Mbah Google adalah: jangan duduk sebelum dipersilahkan duduk. Tapi orang-orang Turki ini tidak seperti orang-orang Australia atau Amerika ternyata. Mbah Google bilang bahwa “interviewer akan berdiri, menyalami anda, mengucapkan selamat datang, kemudian mempersilahkan anda duduk”. Tidak ada satupun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda bahwa Mbah Google bisa dipercaya. Untung saja, setelah menutup pintu, sambil berjalan ke arah kursinya, Miss Lenny mempersilahkan saya duduk. Setelah mengucap “thank you” dan duduk, barulah Mr.B tersenyum (hanya Mr.B ya!), menanyakan kabar saya, kemudian meminta berkas-berkas yang disebutkan di email.

Di luar dugaan, bahasa Inggris mereka bagus sekali, tidak seperti bayangan saya. Sebelumnya saya pernah mengikuti seminar internasional dengan banyak peserta berkewarganegaraan Turki yang bahasa Inggrisnya sulit dimengerti. Sebenarnya ini sempat membuat saya khawatir saya tidak bisa menangkap maksud mereka nantinya. Tapi, setelah dua orang ini mulai berbicara, mereka berbicara seperti native speaker. Saya lega sekali.

Setelah saling menanyakan kabar, interview dibuka dengan perkenalan diri saya. Background studi dan juga keluarga saya. Hanya Mr.B yang memperlihatkan bahwa dia sedang mendengarkan saya meski sambil men-check berkas-berkas saya. Kemudian Mr.A bertanya mengapa saya memilih melanjutkan kuliah di Turki dengan jurusan yang berbeda dengan background S1 saya. Mr.A bertanya sambil tetap memandangi laptop di depannya. Karena Mr.A ini bertipe “interviewer hawa negative”, jadi saya putuskan untuk menjawab sambil bercanda. Saya jawab, “Let’s say I have a great skill hurting my self…”. O.o..It worked!, Mr.A mengangkat kepalanya dan memandang saya -untuk pertama kalinya terlepas dari daya tarik laptop yang sangat ia cintai itu-, kemudian mulai tersenyum setelah saya lanjutkan, “Usually I’m not a careless person, but when it comes to “needle-things”, I don’t know why, it’d be ended with blood on my fingers. Maybe because I do love my patient, so my body wants me to feel what it’s like to be injected. So… I think, I’m not good working as a practical nurse like this”, saya menggeleng-geleng dengan membuat wajah menyesal kemudian tertawa kecil. Keduanya tersenyum lebar. Baru kemudian saya lanjutkan dengan jawaban yang serius, yang berkaitan dengan kecocokan skill dengan jurusan yang akan saya ambil. Pelajaran #5: Lemparkan jokes untuk merubah suasana interview.

Selain gurauan tadi, ada satu hal lagi yang saya tangkap sebagai “ketertarikan” mereka. Ketika saya menjelaskan tentang jurusan yang akan saya ambil, efek menyebut beberapa professor di universitas tujuan saya beserta background dan jurnal mereka yang telah saya baca, membuat mata mereka berbinar-binar. Saya merasa ini adalah hal yang paling brilliant selama saya diwawancarai. Mungkin topik ini menunjukkan tingkat keseriusan applicant untuk menempuh studi di negara mereka. Dan Alhamdulillah, saya diterima di universitas pilihan pertama saya di lembar aplikasi, universitas yang saya ceritakan ketika wawancara. Pelajaran #6: Cari tahu tentang Professor jurusan yang dituju beserta jurnal/publikasinya.

Seingat saya, jawaban yang saya siapkan untuk 5 butir pertanyaan yang telah saya tulis di 2nd Actiondi atas, semuanya berguna. Tentu saja ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari apa yang saya tulis saat aplikasi, misalnya: pernah jadi pembicara di mana saja dan bagaimana prosesnya, atau tell us about the book U’ve written, nah, Alhamdulillah bukunya juga saya bawa, jadi bisa langsung diinspeksi oleh interviewers. Pelajaran #7: Bawa “barang-barang bukti” prestasi.

Terakhir, Mr.A bertanya lebih dalam tentang keluarga saya, terutama pekerjaan orang tua. Semua teman yang telah menghadapi mereka sebelum saya (tentu saja yang sempat saya tanyai) mendapat pertanyaan serupa. Mungkin interviewers ingin melihat “kelayakan” kita mendapat beasiswa ini dari sisi ekonomi. Ada salah seorang kawan yang begitu khawatir tentang ini sebelum gilirannya masuk. Saya tahu orangtuanya berada sekali, saya sempat ngobrol dengan ayahnya saat menunggu di belakang pos satpam paginya. Ayahnya sering pergi ke berbagai negara, entah apa profesinya. Diapun sempat bertanya pada saya bagaimana dia harus menjawab pertanyaan ini. Menurut saya, katakan apa adanya. Seperti yang saya singgung sebelumnya, kejujuran adalah nomor 1, berkah-tidaknya beasiswa yang akan kita dapat nanti juga bergantung pada proses kita mendapatkan beasiswa ini. Jangan sampai kita mendapatkannya dengan kebohongan. So,Pelajaran #8: Jangan nodai kemenangan dengan kebohongan dalam proses mendapatkannya.

Wawancara berlangsung singkat sekali, bahkan untuk mengucapkan terimakasih dan “saya senang telah diundang untuk wawancara”pun saya katakan sambil berdiri beranjak pergi. Sekeluarnya dari ruang interview, saya merasa menyesal dan kurang maksimal karena ada banyak hal yang menurut saya bisa menjadi “senjata” tapi belum sempat diungkapkan. Rasanya ingin mengulang sesi wawancara ini lagi, atau paling tidak ditambah waktu lima menit lagi untuk itu. Semoga kawan-kawan tidak merasakan hal yang sama dengan saya setelah selesai wawancara, because U will do more than me, dude. U will do MORE MORE than me!.

Jumat, 19 April 2013

*Senyum hangat semangat dari  jendela kampus Hacettepe University

14 thoughts on “#Seri Bahas TUNTAS Taklukkan “Tes wawancara Beasiswa TURKI”

  1. Alhamdulillah ketemu tulisan ini :D
    Informatif sekali tulisannya, dan semoga kedepan bisa siapin ‘senjata’ yg bagus juga untuk menghadapi sesi wawancara. (insya Allah).
    Kalau boleh tau, rentang waktu antara pengumuman peserta yg lolos ke tahap wawancara dgn hari-H nya berapa lama ya mbak? Terima kasih.

  2. Selamat Broo teguh, semoga sukses wawancaranya ya. rentang waktunya kalo tak salah tahun lalu sekitar 2 minggu kurang lebih, tahun lalu semua sangat cepat sekali. jngan lupa Ikuti Kultwit Tweeter malam besok pukul 20:00 waktu Turki/pukul 12:00 waktu Indonesia Bongkar Habis Tembus Wawancara Beasiswa TURKI, via tweeter @eviexist jangan lupa broo :D

  3. assalamualaikum,,,,,uhty sebelumnya ane makasih banget atas infonya ni tulisan inspiratif banget bwtku,bydwy ane mo tanya uhty,apakah saat interview untuk semua jurusan menggunakan bahasa inggris atau tidak???

  4. Oh gtu,oya uhty boleh sya minta alamat fbnya atau wechat,skype sejenisnya.coz sy pgen bget k turki biar bsa tanya lebh jelas lg.thnks a lot

  5. kaka, kaka, saya tanggal 7 nanti wawancara tapi tanggal 3 sama 4 nya ada UM.. Jadi kan saya belajar maksimalnya cuma sebentar, tuh… nah, kira kira tips kebut 2 malem apa ya yang cocok sama saya? hehe oh ya, tadi kan kaka bilang ‘banyak hal yang menurut saya bisa menjadi “senjata” tapi belum sempat diungkapkan’ nah, itu apa aja ya, ka? hoho

  6. Mbak mengatakan “Cari tahu
    tentang Professor jurusan
    yang dituju beserta jurnal/
    publikasinya” yang dimaksud profesor ( dosen/karna ambil S1) kan milih univ lebih dari 3, apakah di sebutkan profesor d setiap univ? Balas mbak

  7. Mbak mengatakan “Cari tahu
    tentang Professor jurusan
    yang dituju beserta jurnal/
    publikasinya” yang dimaksud profesor ( dosen/karna ambil S1) kan milih univ lebih dari 3, apakah di sebutkan profesor d setiap univ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s