Berdinamika di tengah Valentine yang Gempita

Berdinamika di tengah Valentine yang Gempita

Oleh : Muhammad Elvandi, Lc.

Saint Etienne, France – Februari 2012

Perayaan, upacara, pesta, gaya bersalaman, berpakaian, mengungkapkan kesenangan, kasih sayang, cinta adalah bagian dari budaya. Ia merepresentasikan sisi luar sebuah ideologi, ia adalah perpanjangan sebuah sejarah panjang suatu masyarakat yang membangun cara-cara hidup tertentu bersama-sama. Dan setiap umat mempunyai hal itu. Setiap entitas mempunyai hak penuh untuk hidup dengan gaya tertentu.

Persoalan baru muncul, ketika sebuah umat yang mempunyai nilai gaya hidup spesial sebagai konsekuensi ideologis harus menghadapi gaya hidup yang baru, berjauhan, dan kadang bertentangan dengan akar ideologinya. Seperti umat Islam yang tinggal di Eropa misalnya. Banyak kontras-kontras budaya yang mereka hadapi. Salah satunya, perayaan Valentine’s Day.

Bagi masyarakat Eropa atau barat secara umum. Ia adalah sebuah kebanggaan, kegembiraan, sublimasi perasaan cinta mereka. Karena memang mereka dulu menciptakan hari ini. Padahal sejarah nama Valentine tidak berhubungan sama sekali dengan cinta. Baik versi yang mengatakan pendeta Valentine dari Roma atau dari Terne, yang masing-masing dieksekusi gereja abad ke ke 2 dan 3. Tidak ada korelasi cinta dalam kisah pendeta itu kecuali setelah 12 abad kemudian, puisi Chaucer tentang Valentine terbit.

Setelah abad 14 legenda-legenda bermunculan, seperti cerita pendeta Valentine yang dihukum Kaisar Roma Claudius II karena ia berkukuh menolak tuhan-tuhan pagan Caludius dan memegang tegus akidahnya bahwa tuhan itu adalah Isa al-Masih dan karena ia menikahkan para pasangan muda tanpa izin. Atau kepercayaan klasik Roma, tentang festival Lupercalia, dimana lelaki memilik acak para perempuan untuk berpesta seks sepuasnya di tanggal 13-15 Februari. Dan setelah orang-orang Roma memeluk agama Kristen, mereka mengemas pesta seks itu dengan isu yang lebih religius, mengenang pengorbanan pendeta Valentine. Ada juga versi yang mengatakan bahwa Valentine di 14 Februari mengandung makna cinta karena saat itu setiap burung memilih pasangannya seperti yang dipopulerkan penulis Geoffrey Chaucer untuk raja Inggris.

Semua legenda yang melahirkan Valentine’s Day ini tidak mempunyai referensi ilmiah. Tapi budaya di dunia ini tidak harus selalu ilmiah. Ia lahir karena sebuah komunitas terus-menerus mengikuti dan mempertahankannya. Bahkan sastrawan besar Shakespeare menyebutnya dalam Hamlet, begitupun Edmund Spenser. Dan jadilah ia budaya yang mengakar.

Pemerintah Inggris bahkan memfasilitasi surat-surat cinta untuk muda-mudi di hari ini sejak tahun 1797.  Logo-logo seputar Valentine semakin menjamur di abad 19. Uang yang dikeluarkan masyarakat untuk perayaan ini mencapai 1.3 milyar poundsterling untuk semua pernak-pernih Valentine. Di Amerika 190 juta kartu Valentine terkirim setiap tahunnya. Ini adalah versi modern Valentine.

Tapi sekali lagi, karena valentine itu mempunyai akar ideologi dan sejarah, maka corak yang dulu menjadi sejarah Valentine juga tidak hilang. Ia bahkan menjadi warna yang mencolok di hari ini. Pergilah ke cafe manapun, atau bar, dan diskotek di Eropa. Pasti akan ditemui pesta alkohol, dansa atau seks yang lebih tinggi intensitasnya di banding hari-hari biasa.

Lalu tiba-tiba masyarakat muslim Indonesia di Eropa harus menghadapi fenomena ini. Dimana rekan, sahabat, guru, dosen, murid, tetangga mengajak ber-Valentine bersama mereka. Bagaimana menghadapi persoalan ini secara dewasa? Bagaimana bersikap lalu merasionalisasi sikap-sikap itu menurut ideologi yang diyakini [Islam] di hadapan mereka? Bagimana juga menjelaskan ini ke saudara-saudara muslim yang lain yang terbiasa berdesak-desak di meriahnya Valentine? Semua ini perlu sebuah pandangan, Islami, dan ilmiah, karena hal ini akan selalu berulang setiap tahun, bukan hanya tahun ini.

Sikap Islam terhadap Budaya Luar

Islam mempunyai kaidah-kaidah pokok yang tidak akan pernah berubah, yang disebut tsawâbit. Misalnya timbangan untuk mengukur budaya, penemuan-penemuan baru. Ia tetap dan tidak akan berubah. Timbangan untuk mengukur budaya misalnya, Rabbaniyyah [berorientasi ke-Tuhanan], Ilmiyyah [ilmiah], ‘Amaliyyah [berorientasi kerja]. (Khasâish Tashawwur Islâmi wa Muqaqqimâtuhu – Sayyid Quthb).

Dan hal-hal baru yang bisa diterima oleh timbangan ini disebut Mutaghayyirât [dapat berubah]. Misalnya, tabligh akbar di momen Maulid Nabi. Ia bukan budaya yang diajarkan Nabi tapi dimulai di zaman Shalahuddîn al-Ayyûbi. Ia tidak termasuk ibadah ritual. Tapi ia sekedar acara sosial. Lalu ketika ditimbang, acara itu berorientasi ketuhanan, ilmiah karena tidak masuk dalam kategori acara yang dilarang Islam bahkan menambah wawasan umat tentang sejarah Nabi, dan berorientasi kerja, membuat umat Islam teringatkan akan Nabi dan menteladaninya. Maka acara ini bisa diadopsi menjadi budaya oleh masyarakat muslim. Tapi bisa jadi bagi sebagian masyarakat muslim di negara lain, yang terbiasa mengkonsumsi kajian sejarah Nabi, tidak membutuhkan momen pengingat seperti ini, maka bagi mereka hal ini tidak usah menjadi budaya, itu pun tidak masalah. Tapi tidak perlu mengatakan bagi yang melakukan Maulid Nabi bid’ah, karena bagi sebagian masyarakat muslim di suatu negara ia dibutuhkan, selain memang tidak ada yang salah dalam agenda itu.

Itu kaidah secara umum. Lalu bagaimana dengan Valentine’s Day? Jika ditarik ke akarnya, semua versi legenda Valentine’s Day tidak memenuhi standar rabbâniyyah, ilmiah, dan ‘amaliyyah. Ketiga versi yang ada hanya menunjukan simpati pada seorang pendeta yang menuhankan Isa, atau pesta seks kuno Lupercalia Roma atau percintaan burung di tanggal 14 Februari.

Lalu dimana letak nilai ketuhanannya dalam budaya itu? Bahkan dimana nilai ilmiahnya? Dan yang paling penting dimana nilai produktivitas dari budaya itu? Jika bermilyar dolar uang masyarakat terhambur untuk ekspresi cinta yang berakar dari budaya Trinitas, atau Hedonis, atau Fabel. Dalam ketiga konteks inilah Islam menolak budaya Valentine’s Day. Karena secara ideologis ia sama sekali tidak merepresentasikan nilai ilahiyyah. Justru ia adalah pengabadian budaya hedonisme kuno yang dimodernkan. Disinilah makna Hadist Rasulullah ‘’man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum’’ [siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka]. Karena yang ia adalah representasi ideologi mereka.

Padahal hidup seorang muslim adalah untuk beribadah ‘’tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah’’[adz-Dzâriyyât :56]. Dan Islam sangat menjunjung tinggi budaya ilmiah ‘’sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu‘’ [al-Fâthir:28], dan budaya dalam Islam harus produktif menghasilkan kerja bukan berboros ria ‘’[Allah] Ialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa yang amal paling baik‘’[al-Mulk:1]. Di ayat ini dijelaskan, agar setiap muslim bukan sekedar melakukan amal yang ilmiah dan baik, tapi yang terbaik, yang paling produktif. Apa itu? Aktivitas yang memberi manfaat kepada umat, bukan hura-hura dan pemborosan waktu, materi dan tenaga.

Tapi saya termasuk yang tidak sepakat dengan para penulis muslim yang menolak Valentine’s Day hanya dengan alasan ia adalah budaya luar. Tanpa menyebutkan alasan penolakannya itu, dan malah memaki-maki sembali menukil satu-dua ayat yang kadang tidak ada hubungannya.  Jika ingin menilai, maka nilailah secara ilmiah dengan timbangan-timbangan yang rasional, karena Islam adalah agama yang rasional. Bukan dengan mengatakan karena ia adalah budaya barat. Karena walaupun nilai akhirnya sama: Islam melarang Valentine’s Day, tapi alasan ini membuat orang salah faham. Membuat orang memandang bahwa Islam anti budaya luar, bahwa Islam adalah agama yang tidak menerima modernitas berikut gaya hidupnya.

Bukan seperti itu, karena betapa banyak budaya barat yang justru sangat direkomendasikan Islam. Budaya barat yang terbiasa tepat waktu dan janji, bersih, profesionalisme kerja, budaya bebas mengemukakan pendapat, budaya kerapian dalam administrasi, atau budaya pelayanan masyarakat yang optimal. Walaupun budaya-budaya ini pernah menjadi ciri peradaban Islam zaman dulu, tapi kini umat Islam telah kehilangannya, dan di masyarakat baratlah hal ini bisa ditemukan. Maka jenis-jenis budaya seperti inilah yang perlu kembali diadopsi dan dikembangkan di negeri-negeri berpenduduk muslim.

Jadi jika Valentine’s Day ditolak Islam secara ideologis justru karena ia tidak ilmiah dan tidak produktif. Bukan karena Islam anti barat.

Sikap Sosial

Perlu dibedakan antara keyakinan pribadi dan sikap sosial. Setiap muslim harus yakin di hatinya bahwa budaya Islam menolak Valentine’s Day. Ia bisa mengingatkan saudara-saudaranya sesama Msulim tapi tidak berarti ia harus memaki-maki dan mengutuk orang-orang barat non-Muslim yang merayakannya. Karena hal ini akan semakin menguatkan resistensi mereka terhadap Islam.

Lebih dari itu, dakwah Islam adalah sebuah ajakan menuju perbaikan, bukan penghakiman. Dan ajakan menuju perbaikan itu mempunyai tahapan dan sarananya. Bagi masyarakat barat yang sudah menancapkan budaya Valentine’s Day ribuan tahun, mendebat mereka dalam hal ini sangat tidak bijak.

Karena sikap mereka yang merayakan Valentine’s Day sebetulnya konsekuensi alami keyakinan mereka dengan agama yang mengadopsi budaya Valentine’s Day. Jika mereka tertarik dengan dakwah Islam yang memulai ajarannya dengan tema-tema dasar seperti Tuhan, alam semesta, hakikat kehidupan, lalu pandangan mereka berubah, secara otomatis gaya hidup mereka akan berubah.

Sampai perubahan itu ada, maka sikap yang perlu dilakukan di tengah ramainya gempita Valentine’s Day adalah seperti apa yang diajarkan Rasulullah, yaitu Tasâmuh [toleransi]. Dan dari sikap menghargai inilah, umat lain mendapat kesempatan untuk melihat bagaimana umat Islam mempunyai kebijaksanaan, kelapangan dada dan keluasan wawasan untuk berinteraksi dengan budaya asing, menimbangnya dan memanfaatkan yang terbaiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s