Musuh Terkuatmu

Oleh: Qonita

Mahasiswi Hacetepe University

Catatan ini adalah nukilan sebuah obrolan hangat di akhir minggu ketika kami berkumpul dalam sebuah lingkaran sambil menikmati teh panas dan menghayati hangatnya ukhuwwah di tanah rantau. Kadang obrolan biasa akan berubah menjadi luar biasa ketika hati-hati yang bertemu disitu ada disebuah frekuensi yang sama.

Ok, itu sekilas info, kembali ke topik. Judul catatan ini  ‘musuh terkuatmu’, ada dua kata dasar, yang pertama musuh dan lainnya adalah kuat dalam kata terkuat, imbuhan ter- disini bermakna ‘paling’ (berasa ada dalam pelajaran bahasa Indonesia di bangku SMP aja, ahhay). Kata ‘musuh’ sendiri sudah membawa bayangan horor. Dan ini ditambah lagi dengan ‘terkuat’, sesuatu yang bergelar ‘paling kuat’ pasti akan membawa kesan yang angker kan? ‘Musuh terkuat’, kira-kira yang seperti apa sih? Deskripsi apa yang paling cocok? Yang punya senjata canggih kaya yang diapakai pemuda di Amerika untuk membunuh ibunya itu? Yang punya sejuta tentara yang sudah digojlok siang malam seperti tentara Amerika? Atau yang punya bom fosfor putih yang jadi andalan Israel? Hayooo yang manaa?

Ngomongin musuh jadi horor juga ya? Intermezzo dulu deh, kamu pernah dengar cerita anak-anak tentang 3 angin vs 1 monyet? Kalo yang belum pernah dengar, sini sini aku ceritain..

Alkisah, ada 3 angin yang berlomba menjatuhkan seekor monyet dari atas pohon. Yang pertama tampil unjuk kebolehan adalah si topan. Dia ngambil ancang-ancang, dengan segenap tenaga ia hembuskan seluruh kekuatannya untuk meng-KO-kan si monyet yang anteng di atas pohon itu. Namun, apa yang terjadi? Si monyet tetap di atas pohon. Dia meliuk-liuk mengikuti hembusan topan tapi tangannya semakin erat memeluk pohon. Alhasil, si topan menyerah dan sang monyet selamat.

Berikutnya si badai tampil. Dengan penuh optimis dia melakukan usaha seperti yang dilakukan topan. Ambil ancang-ancang kemudian menghembuskan seluruh kekuatannya dengan segenap tenaga yang dia punya. Tapi rupanya, sang monyet tetap mencengkeram pohon. Dia tetap diposisi semula. Tak jatuh.

Setelah kedua angin menyerah untuk menjatuhkan sang monyet, giliran angin selanjutnya yang akan mencoba mengadu nasib. Dengan tenangnya, angin sepoi-sepoi mulai beraksi. Ia meniupkan kelemah-lembutannya berulang-ulang. Sekali, dua kali, tiga kali, dan keempat kalinya berhembus..”Braaakkk!!” ternyata sang monyet jatuh dari pohon itu, karena belaian si sepoi-sepoi telah melelapkan dia ke alam mimpi. Yes! Sang monyet jatuh karena tiduuurr! Haha, kasian ya? Pasti dia kaget setengah mati. Lagi enak-enaknya mulai terlelap eehh malah jatuh. Jatuh dari pohon pula…ckckckck…

Tadi aku ngajak ngomongin musuh, kok sekarang jadi nyasar sampe monyet? Adoi, gimana dong? Kawan, dari cerita itu terjawab sudah pertanyaan, ‘musuh terkuat itu yang seperti apa sih?’ Jawabannya… yang seperti angin sepoi-sepoi.. Salaahh! Ah kamu, mahasiswa masa iya ngasih jawaban seperti anak umur 6 tahun. Malu dong! Jawabannya, musuh yang terkuat adalah bukan dia yang punya senjata dahsyat dan spektakuler, bukan juga yang punya tentara banyak dan kuat, bukan pula yang sadis dalam menghadapi lawan. Karena pada kenyataannya musuh terkuat adalah dia yang sering kali tak terlihat seperti musuh. Dan dia memang tidak menampakkan diri sebagai musuh, sehingga kita mudah lalai dan terlena. Jadi, musuh terkuatmu yaaa..hawa nafsu sendiri!

Jadi, jangan sampai kita menaruh kasihan berlebih pada saudara muslim kita di Palestina sana hanya karena melihat keadaan mereka yang diserang Israel bertubi-tubi. Kenapa? Karena sepatutnya kita iri dengan mereka, kondisi ruhiyah mereka sungguh luar biasa. Mereka tak takut lagi akan kematian, justru dengan senang hati dan lantangnya mereka berkata, “Apalagi yang ditakutkan dari kematian sementara itulah gerbang untuk berjumpa dengan Allah?” Merekalah contoh nyata, jiwa-jiwa pemenang sejati. Melepaskan diri dari hal yang bersifat duniawi, hingga tak takut lagi akan mati. Sedangkan kita??? Kitalah yang harus dikasihani. Membedakan mana lawan dan mana kawan saja masih sering keliru. Memisahkan mana yang halal mana yang haram saja masih ragu. Apalagi jika ditanya tentang kematian. Astaghfirullah…

So, kalau tahu bahwa itu musuh, kita harus sekuat tenaga menaklukkannya. Kalau kita tahu bahwa hawa nafsu itu musuh terkuat, maka kita harus bisa membuatnya bertekuk lutut. Untuk mengalahkannya, harus kita kenali dulu karakteristik musuh kita ini, yaitu nafsu:

  1. Nafsu tidak mungkin terpuaskan.

Mau sampai koprol sekalipun waktu nurutin nafsu, dia tidak akan pernah merasa cukup. Cukup saja tidak pernah, apalagi puas? Seperti kalau kita haus lalu minum air laut, yang ada malah kita semakin haus. Contohnya gampangnya: shopping. Sudah beli tas satu, pengen beli lagi warna yang lain. Sudah punya baju numpuk, begitu ada model baru pengen beli. Sudah punya hp canggih, begitu ada seri baru pengen beli lagi. Begitu terus nggak berhenti..

Jadi, kalau sudah tau nafsu nggak akan pernah merasa ‘cukup’, yaa sudah..bantai saja sekalian, nggak usah diturutin sama sekali! Contoh nyata nih, pas kita puasa kalau siang-siang kita haus, kan kita akan menahan buat nggak minum tuh. Alhasil, waktu buka puasa, air putih saja terasa nikmat bangeetts. Tapi coba bandingkan dengan waktu kita nggak puasa, haus dikit langsung minum dan lama-lama bosen minum air putih mulu. Trus, akan cari minuman lain yang lebih wah, kan? Jadi, kalau kita mau, kita pasti bisa membantai si nafsu ini kok! Pokoknya kudu yakin, bismillah pasti bisa!

Ada juga nasehat indah dari Ibnu Qoyyim, ingat nih baik-baik, “Sesungguhnya melawan hawa nafsu bagi seorang hamba akan melahirkan satu kekuatan di badan, hati, dan lisannya.”

  1. Nafsu cenderung menjauhkan dari kebenaran.

Di sekitar kita pasti banyak contoh orang-orang yang terhormat jadi hina hanya karena terpedaya oleh nafsu sendiri. Misal, nafsu lihat uang, nafsu gila jabatan, nafsu nggak mau kalah dengan harta kawan, nafsu amarah, dan nafsu-nafsu lainnya yang cenderung membuat kita nggak bisa berfikir jernih dan bermata gelap.

Karena setiap kita adalah khalifah, yang diciptakan untuk memakmurkan bumi, alangkah baiknya jika pemakmuran itu dihias dengan kebenaran dan kebaikan semata. Karena sudah jelas bahwa nafsu hanya akan menjauhkan kita dari kebenaran, maka sudah saatnya kita harus memegang tali kendalinya.

Semoga kita tidak pernah sengaja menyerah pada musuh terkuat kita itu. Karena meski nafsu bergelar musuh terkuat, tapi tetap saja hati adalah rajanya. Dan pastinya raja harus jauh lebih kuat. Jangan sampai kita seperti monyet yang jatuh dari pohon karena hembusan angin sepoi-sepoi, padahal sebelumnya ia pernah sukses melawan terpaan topan dan badai yang jauh lebih dahsyat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s