Mandiri di Perantauan

Oleh : Fatimah Azzahra

TOMER Ankara Universitesi-Bursa 2013

DSC06447Jika kalian salah satu dari applicant yang beruntung menerima notifikasi berawalan “tebrikler” maka sekali lagi selamat! Selamat atas perjuangan dan segala prosesnya, selamat atas manifestasi apik ikhtiar dan takdir Allah, selamat atas keberhasilannya mengolah kebimbangan-kebimbangan, mengubah prasangka negatif menjadi prasangka positif, selamat karena telah berani memutuskan, selamat karena akan memulai tahapan hidup yang baru—sebagai penerima beasiswa Turkiye Burslari 2013, menjadi bagian Indonesia di bumi Fatih. Sekali lagi selamat!

Keberhasilan mendapatkan golden ticket menuju negeri Konstantinopel ini tidak bisa dibilang mudah, juga tidak bisa dibilang sulit. Cukup  satu formula: kesempatan! Euphoria sejenak tentu sah, merasa bahagia menjadi bagian yang sedikit. Euphoria untuk sekedar memberi ruang  afirmasi penuh pada diri bahwa ini hal yang pantas untuk diperjuangkan. Jika setelah menerima golden ticket bertuliskan “tebrikler” dan memutuskan untuk berangkat, selanjutnya apa? Selanjutnya adalah menyiapkan keberangkatan baik fisik, mental dan spiritual. 8) Lebih lengkap mengenai bahasan ini sila cek link berikut.

Adakah keraguan, membiarkan diri berpetualang? Simak buncahan semangat Ikal dalam Edensor berikut:

“ I wanted to climb to the summit of challenges, attack my way through harships as solid as granite, tempt all sorts of peril, and break through mysteries with science. I longed to inhale all shorts of experience and then explore the labyrinthne ins and outs of life that in the end cannot be guessed. I yearned for possibilities that react with each other, like the collision of Uranium molecules: binding, multiplyung, bursting, and dispersing in unexpected directions. I wanted to go to faraway places and meet with endless varieties of foreign languages and peoples. I wished to rove, finding my direction through reading the stars of constellations. I wanted to cross fields and deserts, to be burned by the sun until I blistered, to be shook by the assaulting wind, and shrink from being gripped by cold. I wanted a life that was thrilling, filled with conquest. I wanted to live! To feel the essence of being!”

“Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!”

Maka jika tekad sudah bulat, jejak kaki sudah terangkat, pantang mundur menghadapi kehidupan baru di bumi Turki. Rekam baik-baik apa yang menjadi tujuan di awal keberangkatan ke Turki. Merekam motivasi dan cita-cita besar yang ingin direngkuh selama masa rantauan menjalani pendidikan di Turki. Rekaman ingatan ini akan menjadi penguat ketika sedang berada di kondisi terbawah dalam fluktuasi semangat kita.

Sayap burung baja yang membawa pelajar Indonesia terangkat sempurna, membawa para endeavour-endeavour Indonesia menyatu di udara sekitar 16 jam. Jejak pertama di Bandara Internasional Istanbul seharusnya menandai udara baru yang dihirup, menandai suhu baru di musim gugur,  menandai benua baru tempat berpijak, langit baru tempat mengirim doa, wajah baru ketika memandang sekitar dan tentu saja kehiruk-pikukan baru dengan bahasa yang asing di telinga.

Sensasi ini, lebih kurang akan dirasakan dengan dimensi yang berbeda oleh para endeavour Turkiye Burslari 2013. Lebih atau kurangnya, kita yang menciptakan momen tentu saja. Ibarat perang sudah dimulai, perbekalan sudah disiapkan, strategi bertahan dan terus maju pun harus diperbarui terus-menerus.  Percayakah, jika kita fokus pada tujuan besar, maka dalam proses mencapainya kita akan meraih kesuksesan-kesuksesan kecil disepanjang perjalanan, bahkan tanpa kita sadari, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Karenanya, bersiaplah! Ambil strategi bukan hanya bertahan hidup tetapi untuk mengeksponensialkan kesempatan yang telah dititipkan Allah.

SATU : LIKA-LIKU ANAK ASRAMA

Jika berangkat ke Turki atas beasiswa YTB (pemerintah Turki), maka fasilitas hidup di asrama pemerintah sudah ditangan. Apa saja yang perlu dipertimbangkan?

  1. Memilih kamar. Asrama  pemerintah Turki yang umumnya satu kamar berkisar 4-8 penghuni, tergantung kapasitas asrama. Jika ingin bernegosiasi dengan pegawai asrama untuk ditempatkan tidak dengan sesama mahasiswa asing tetapi dengan mahasiswa Turki tentu akan mempermudah proses belajar bahasa Turki.  Jika bergabung dengan mahasiswa internasional lainnya atmosfir belajar akan dibentuk lebih berwarna karena perpaduan teman kamar yang berbeda negara. Tentu keduanya memiliki sisi positif dan negatif yang sejatinya menjadi tantangan tersendiri.
  2. Melenturkan hati. Makna denotatif terpenting yang ingin disampaikan adalah ketika tinggal seatap dengan banyak orang berbeda negara, bahasa, warna kulit membutuhkan kesabaran dan kelapangan hati. Lenturkanlah hati kita agar bisa bertahan di masa-masa sulit, misalnya ketika terjadi benturan budaya yang kontras, ketidaknyamanan gaya hidup, atau masa-masa ketika kita sangat merindukan kamar sederhana kita di rumah. Inilah ombak kecil pertama yang harus ditaklukan. Seni bertahan hidup di negeri orang ini adalah tempaan pertama mental pejuang ilmu Indonesia. Hal ini bukan berarti kita pasrah dengan atmosfer kehidupan yang berbeda tetapi harus secara bijaksana berani tegas dengan prinsip yang dibawa dengan toleransi bertetangga, bermasyarakat.
  3. Melenturkan lidah. Kali ini bukan bahasan melenturkan lidah berhubungan erat dengan makanan. Yak! Makanan Turki untuk pemukim baru akan terasa hambar, kurang berbumbu, dan sangat berminyak. Untuk yang telah persiapan dengan bumbu-bumbu instan dari Indonesia mungkin dapat bertahan dalam waktu sementara, tetapi untuk jangka panjang alternatif bertahan hidup dengan melenturkan lidah lah yang harus dilakukan. Melenturkan lidah artinya tidak hanya menerima pasrah masakan Turki yang secara umum akan terlihat monoton bentuk dan rasa, tetapi juga mengkreasikan diri untuk tetap menikmati makanan dan tetap sehat.  Menambahkan garam, lada bubuk, kecap, saos biasanya dilakukan mahasiswa Indonesia di awal masa adaptasi. Ini sangat wajar, setelahnya lidah Indonesia kita akan beradaptasi dengan lidah Turki yang konon lebih berbumbu dibandingkan dengan negara Eropa lainnya. Yuk, mari terus bersyukur, karena ketika memandang ke bawah, masalah ini begitu sederhana. Bayangkan dengan muslim rantauan di negara lain yang sulit justru dari hal mendasar: mencari makanan halal. Tidak hanya menikmati makanan, bertahan di negeri orang menuntut kita untuk tetap sehat, kombinasikan makanan Turki yang berminyak dengan perbanyak makan salad sayur, konsumsi buah, dan minum yang cukup.  Pasar-pasar tradisional Turki banyak menjual sayur dan buah murah, pun di asrama kita dapat memilih menu salad sebagai penyeimbang konsumsi lemak hewani yang ada hampir di semuamenu Turki.
  4. Menjadi Muslim yang Indonesia. Tinggal di asrama dengan berbagai jenis agama dan tipikal manusianya memaksa kita untuk harus tetap teguh dengan kebaikan Islam yang telah dibawa dari Indonesia. Bahwa Indonesia sangat terkenal di mata masyarakat Turki sebagai muslim yang taat. Oleh karenanya, tetaplah menjadi muslim yang Indonesia, yang mengedepankan akhlak, displin ibadah, kesantunan laku, serta kebaikan lainnya. Tantangan terberat muslim Indonesia yang di Turki berbeda dengan yang tinggal di Eropa lainnya, yang sulit mencari masjid, dilarang untuk shalat, atau larangan keras berjilbab. Lain lubuk, lain ikannya. Tantangan muslim di Turki adalah menyesuaikan jadwal shalat yang berbeda disetiap musimnya (mengingat adanya DST—Daylight Saving Time) yang menyebabkan musim dingin waktu shalat sangat sempit sementara memasuki musim semi dan musim panas, rentang waktu shalat sangat panjang.  Lain lagi permasalahan kultur yang harus dikuatkan, menjumpai jutaan muslim Turki tidak berarti aman, karena sebagian besar muslim Turki masih kental sekulerisme. Gaya hidup ala Eropa yang serba terbuka dan bebas seakan membentuk kontras sempurna dengan muslim Turki yang masih teguh memelihara Islam-nya. Sebagai pendatang, tetaplah dengan identitas muslim yang melekat, yang menjadi cerminan pribadi pribumi Indonesia.
  5. Menjalin komunikasi. Ruang lingkup komunikasi dalam bahasan ini adalah komunikasi dalam (dengan jejaring teman, keluarga, dll di Indonesia) dan komunikasi luar (dengan sesama pelajar Indonesia di Turki, dengan masyarakat Turki, dengan mahasiswa internasional lainnya). Menjaga komunikasi dengan keluarga di rumah, teman-teman Indonesia serta jejaring lainnya yang kita tinggalkan “sementara” di Indonesia sangat krusial. Banyak diantara kita yang fokus membangun link lingkup internasional namun ketika di tanah air terlahir “sendirian”. Terutama dengan orang tua, manfaat sebaik-baiknya media sosial, komunikasi gratis berbagai aplikasi murah seperti skype, whatsapp, dll untuk tetap mengabari. Teman-teman dan kolega di Indonesia, mereka adalah aset kita untuk berkembang setelah pulang menimba ilmu di luar negeri, mereka juga objek—tempat kita berpulang menyebarkan ilmu dan informasi dari luar untuk dibagikan. Para endeavour yang berhasil meraih beasiswa berarti akan semakin dekat dengan pusat ilmu dan informasi yang juga menjadi hak untuk dibagikan kepada teman sebangsa setanah air. Itulah mengapa, kita disebut agen perubahan. Membangun komunikasi dan jejaring baru dengan sesama pelajar di LN serta masyarakat asli Turki tidak kalah penting untuk mendukung eksponensiasi dan akselerasi pengembangan ilmu dan pematangan karakter sebagai pembelajar. Tidak melulu dikaitkan dengan terpenuhinya ilmu, tetapi pelajaran hidup lain seperti bermasyarakat, berorganisasi, dst.
  6. Memadat tetapi tidak tenggelam. Ini istilah yang dimunculkan untuk menjelaskan bahwa masa awal menjadi mahasiswa internasional harus dimanfaatkan seoptimal mungkin dengan kegiatan yang bermanfaat, terutama juga untuk mendukung pembelajaran bahasa Turki. Contohnya dengan mengikuti kelompok diskusi atau kelompok pengembangan bakat yang biasa dikelola oleh lembaga bahasa, atau yang disediakan oleh pemerintah setempat, kursus-kursus gratis, atau menggabungkan diri dalam perhimpunan pelajardi regional terdekat, serta kegiatan positif lainnya. Tentu dengan syarat tidak membuat kita tenggelam dengan rutinitas tetapi justru membuat kita lebih menikmati proses belajar di awal, atau menghilangkan kejemuan berlama-lama di dalam asrama. Kajian-kajian ilmiah maupun asupan ruhaniyah banyak difasilitasi oleh LKS MIT atau PPI Turki dan PPI wilayah lainnya. Pilih-pilah prioritas kegiatan agar tetap seimbang disemuanya.

Menjadi pelajar diperantauan sudah pasti berperan sebagai blue print wajah Indonesia, kepercayaan besar yang sudah diberikan demi menuntut ilmu di Turki sejatinya harus menjadi momentum akselerasi bagaimana kita menjalani dan memaknai hidup lebih dari status kita sebagai seorang pelajar.

Selamat berjuang (bersama) sahabat!

Notes: Foto by Admin’s Collection😀

One thought on “Mandiri di Perantauan

  1. MasyaAllah. Sunggu memotivasi saya dengan pembuka alimat untaian-untaian yang membahana mencetarkan jiwa di dadan .ya Allah dengan niat yang kuat ini .mudah-mudahan impian cita .asa dan keingonan saya untuk belajar disana bisa terwujud dan terlaksana.aamiin.mohon bantu saya ya kak,agar bisa belajar diasana. Dan bagaimana cara pendaftarannya. Krtika saya daftar di online ,mau daftarbke S1 susah sekali.ga masuk-masuk.bagaimana yah.mohon bantuannya kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s