Save Egypt Save Ramadhan

article-0-0F07494F00000578-255_468x286

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. 2:214

Degup jantung dan desah nafas semua kaum muslimin pencinta kebenaran yang terlibat dalam prahara kudeta mesir menunjukkan salah satu bentuk kombinasi yang langka namun indah antara kesabaran menghadapi cobaan, ketawakkalan menentukan cita-cita dan keistiqomahan mewujudkan cita-cita.

Sudah kali kedua pihak al-batil memenuhi dahaga membunuh mereka dengan menembaki demonstran pro-legitimasi hingga jumlah korban mulai meninggalkan angka 200 namun jamaatul mushaddiqin tidak mundur selangkah pun dari titik-titik sit-in. Perbedaan antara kekalahan dengan kemenangan hanya dipisahkan oleh kesabaran. Kesabaran terbesar seorang mu’min terletak pada ketahanan menghadapi cobaan, seperti halnya Nabi Ayyub yang diberi ujian berupa kenikmatan yang diambil secara bertubi-tubi namun tetap saja positive thinking, bersyukur dan beribadah dengan sepenuh cinta pada Allah. “Semua kenikmatan yang ku dapatkan hanyalah titipan semata, jika Sang Pemilik meminta, apalah dayaku aku hanya seorang hamba yang menjalankan qudrah dan iradahNya.”

Kaum muslimin penolak kudeta, menilai bahwa legitimasi adalah amanah dari Allah yang dititipkan ummat via pemilihan umum, lalu apakah ini sebuah harga mati atau masih ‘negotiable’ ? Di sinilah ketawakkalan berbicara,

“Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, dan semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan manusia pun memikul amanah itu. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (72) sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (73) (Al-Ahzab / 33 : 72-73)

Yang membedakan manusia itu bodoh atau tidak terletak pada seberapa serius menganggap amanah itu sebagai sesuatu yang tidak boleh dikhianati. Allah menyatakan barangsiapa yang mengkhianati amanah, predikat munafik bahkan musyrik sudah disiapkan komplit dengan azabnya. Keamanahan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, bumi misalnya. Bumi apabila diberi amanah untuk bertahan pada orbitnya tidak akan mengkhianatinya sedikit pun. Lalu amanah yang seperti apa yang Allah maksudkan?

2.30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang di muka bumi.”

Amanah terbesar yang diberikan Allah pada manusia adalah khalifah fil ardh. Apa itu khalifah? http://artikata.com/arti-102057-khalifah.html Khalifah adalah wakil pengganti Rasulullah dalam menegakkan syariah Allah dalam kehidupan negara atau dengan kata lain adalah pemerintah. Peran ini jelas tidak sanggup dipikul oleh makhluk apapun selain manusia.

Dan untuk posisi tertinggi ini pula syaitan amat sangat membenci jika kaum muslimin memegangnya. Mengapa?

Kami katakan kepada para malaikat: “Bersujudlah kamu kepada Adam”; maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik daripadanya” QS 7:11-12

Lalu jika setan berusaha mengambil alih, apa yang harus muslim lakukan ? Di sini kata tawakkal berperan. Jika Allah menitipkan kekhalifahan pada manusia sebagai wakil-Nya di muka bumi, maka dalam menjalankan tugasnya pun manusia harus mewakilkan seluruh kekuatan dan kepercayaan dirinya kepada Allah semata. Tawakkal atau mewakilkan bukan berarti diam pasif, tetapi tetap aktif bergerak menancapkan amanahnya agar tidak diambil pihak lain, seperti sahabat yang diminta Rasulullah untuk mengikat untanya pada sebuah pancang. Inilah yang dilakukan oleh jamaah penegak legitimasi. Presidensi yang telah diraih secara legitimate adalah harga mati, dan undang-undang berbasis syariah Islam yang telah dihasilkan adalah amanah besar yang harus disyukuri oleh segenap kaum muslimin.

Syariah berlandaskan Al-Quran dan Hadits adalah karunia terbesar yang diberikan Allah bagi manusia di muka bumi. Menegakkan syariah bukanlah hal yang mudah, karena hakekat dari hukum Allah adalah untuk menyembah Allah semata. Bukan untuk yang lain.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (an-Nahl: 36)

Menegakkan syariah pada hakekatnya bukan untuk orang lain, namun ekspresi dari ketauhidan kita. Apalah arti penegakan syariah, tapi pelakunya berperilaku seperti thaghut, atau masyarakatnya senang mendekati thaghut. Memperjuangkan syariah itu sebuah marathon yang membutuhkan keistiqomahan. Istiqomah dalam arti menjaga terus amanah agar senantiasa dalam keadaan tegak dan lurus dalam syahadat.

Kata istiqomah merefleksikan kondisi betapa beratnya menjaga perpaduan antara kekuatan dalam memimpin dengan kedhaifan manusiawi yakni mudah terhasut. Ketika sang pemimpin berusaha menyiapkan infrastruktur bagi rakyatnya agar bangkit dari keterpurukan, setan membisikkan hasutan berbahaya pada rakyatnya agar sibuk dengan aspek non-teknis dan remeh-temeh, hingga citra diri sang pemimpin hancur oleh black campaign. Ketika sang pemimpin menyerahkan dirinya agar tidak ada darah rakyat yang tumpah, setan berhasil mencetak manusia-manusia pembantai yang haus akan darah rakyat.

“Demi cinta, aku rela berkorban”, mudah diucapkan tapi masya Allah, betapa sukar menjalankannya. Bayangkan nabi Ibrahim yang harus mengorbankan anaknya demi cintanya pada Allah. Air mata kesakitan, pengorbanan darah dan hancurnya citra diri menjadi bagian tak terpisahkan dari istiqomah. Namun Allah sangat mencintai hambaNya yang berkorban.

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.” (An Nisaa’: 95)

Mengapa puasa mesti kita jalankan meskipun kita sedang sakit, sedang hidup di tempat gersang atau bermatahari 23 jam sehari, padahal tidak ada yang melihat diri kita, ataupun yang peduli apakah diri kita berpuasa atau tidak ? Kalau mau, bisa saja kita mengambil rukhsoh sebanyak2nya sebagai musafir, atau bisa juga dengan membayar fidyah, jeza di awal bulan puasa ramadhan. Tapi kita memilih tetap berpuasa, mengapa ? Ya… karena cinta kita pada Allah, dan cinta itu perlu tanda. Allah pun sangat mencintai hambaNya yang berkorban bagiNya. Mudah-mudahan dengan pengorbanan orang yang menegakkan syariatNya, Allah redha mempergilirkan sejarah pada hamba-hambaNya yang shaleh.

Sejarah sudah memastikan bhw kaum muslimin selalu menjadi umat pengganti kaum sebelumnya.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai penguasa, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik.” (QS. An Nur: 55)

PR kaum muslimin

Pepatah mengatakan mempertahankan lebih sulit daripada merebut. Alhamdulillah, ayat di atas telah berlaku atau paling tidak pernah berlaku di mesir, namun kepemerintahan ini dalam satu tahun telah menuai badai dan saat ini sedang di-cutikan oleh tentara. Mengapa ?

Setan beserta pasukan kufurnya tidak pernah rela kaum muslimin memegang tampuk pimpinan, di manapun kapanpun mereka berada. Hal ini sudah tercatat dalam sejarah panjang manusia, setiap ada penyeru kebenaran baik dalam level rakyat biasa, level pemimpin bahkan level nabi, selalu ada pasukan yang berperan sebagai antagonisnya. Dan solusinya pun selalu sudah tercatat dalam sejarah tersebut. Di sinilah gunanya mempelajari sejarah atau ayat ilahi yang berkaitan dengan kejadian yang telah lalu, yaitu untuk mencari jalan keluar.

Namun apa sebetulnya yang telah direbut umat muslim saat ini ?

Momentum!

Momentum untuk apa? momentum untuk membangun tatanan islam yang komplit , islam yg syumul.

Ada sebuah hadiah besar di balik besarnya pengorbanan dalam berjuang menyatukan islam dengan kesyumuliahan, yaitu bersatunya umat islam.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. 3:103

Is this straightforward ? Semudah itu ? Wallahu a’lam, yang jelas itu tidak mungkin gratis.

Hambatan, tantangan, ujian yang telah Allah persiapkan bagi kaum muslimin : kebencian dan ketidaksukaan manusia atas keberhasilan hamba2nya yg sholeh dan pekerja keras.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami, jika kamu memahaminya. 3:118

Lalu apakah hanya karena orang memperolok kita dengan kata-kata keji yang lahir dari kedengkian hati, lantas kita melepas momentum?  Apakah hanya karena orang menteror kita dengan perbuatan keji, lantas kita melepas momentum? Apakah hanya karena orang menyudutkan kita dengan sikap zalim, lantas kita melepas momentum?

Tegaknya panji Allah di segala bidang itulah perintah Allah bagi manusia islam di masa modern yg akan terus dihadapi ke depan. Harumnya nama Allah di segala sektor itulah tantangan umat islam. Politik islami hanya salah satu sisi kehidupan, namun tidak bisa dipisahkan dengan ekonomi islam, perdagangan islam, perbankan islam, kekuatan iptek islam, sosial budaya islam dan kokohnya aqidah dan pengetahuan islam itu sendiri.

Seperti halnya membangun rumah, apakah mungkin mungkin mencor atap tanpa seluruh tiang siap secara bersamaan ? tidak mungkin, seluruh aspek kehidupan islami itu harus ditegakkan bersama- sama.

Mesir adalah momentum itu.

Umat islam di Mesir telah membukakan pintu langit ilahi di bulan ramadhan, menjadikan para malaikat membanjiri permukaan bumi, ada yang bertugas menjemput nyawa para syuhada, ada pula yang kerja rapih dan teratur mulai hadirkan kemenangan bagi panji da’wah

Para pendukung legitimasi seolah menjadi etalase bagi kami semua, bagaimana semangat khataman quran menjadi energi tak habis-habis untuk bertahan hidup di jalanan memperjuangkan harga diri muslim pencinta damai, panas dan teriknya matahari menjadi saksi terbentuknya mental baja para perindu syahid untuk menjalankan puasa, youtube dan tv satelit menjadi media perekat umat muslim disebabkan oleh panjatan doa2 trenyuh imam mesjid Raba’a al Adawiyah diamini dg tetesan airmata seluruh jamaah, peluru dan gas air mata menjadi wasilah bagi malaikat izrail untuk memuliakan perjuangan mengembalikan legitimasi dengan menumpahkan darah para syuhada

Detik ini, Jumat 25 Ramadhan 2013, pasukan kudeta berjanji akan membubarkan sit-in yang tersisa, dan sebaliknya kaum muslimin telah mempersiapkan diri untuk tetap bertahan hingga pemerintah hasil pemilu dan undang-undang dikembalikan ke titik semula.

Inilah kesempatan itu, inilah momentum itu, keberhasilan menggalang kekuatan ruhani dan jasmani warga muslim seluruh dunia untuk tetap teguh tak goyah menggelorakan penegakan legitimasi di Mesir adalah buah dari ibadah yang kokoh selama ramadhan. insyaa Allah.

Ayo, tegakkan 10 malam terakhir ramadhan 2013 ini.. semoga dengan mensukseskan ramadhan kita, Allah berkenan menyelamatkan al-haqq di Mesir.

Ya Allah, ya Rabb, bersihkanlah hati kami, jauhkan kedengkian dan hasad dari hati sesama muslim, persatukanlah kami, jadikan kami satu badan yang utuh dan kokoh.

=Jika umat muslim di seluruh dunia yg sedang berjuang menegakkan kalimah Allah adalah paku maka ukhuwah baldatun islamiyah adalah palunya, dan Indonesia adalah palu terbesarnya=

25 Ramadhan 1434H / 2 Agustus 2013,
Yuzyil Ankara, sambil berharap malam ini malam lailatul qadar.

Larasmoyo Nugroho
Mahasiswa doktoral Middle East Technology University
Ankara Turki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s