#SaveEgypt, Dimana Nurani?

Dalam 8 jam, sudah lebih dari 4500 dibantai. 10 ribu lebih menderita luka parah.

Hanya dalam waktu kurang dari setengah hari. Lalu dimanakah nurani?

Mesir 12

Foto: Mujahid yang Syahid atas penembakan Brutal El-sisi

[Dokumen: Sakura Romawi timur]

Mesir kali ini tak lagi terekspose keindahannya. Tak lagi terlihat ramah tamahnya. Hanya rentetan peluru yang terdengar, pembantaian dimana-mana. Genangan darah yang tergenang. Anak-anak menjadi yatim, bahkan juga piatu. Angka janda yang kehilangan suaminya semakin meningkat, bahkan ia kehilangan nyawanya sendiri. Lalu dimanakah nurani? Masihkah ia hidup dan ada di hati manusia?

Militer mengungkap dengan beribu lidah busuknya, bahwa mereka hanya menumpas teroris yang bermarkas di Rab’ah el-Adawiyah. Melindungi Negara. Tapi nyatanya siapa yang mereka temui dan bantai disana? Hanya para pemuda yang tak bersenjata, para wanita dan anak-anak dengan mushaf ditangannya. Seseorang pernah menuturkan kesaksiannya, bahwa Rab’ah adalah cahaya indah yang terpancar di Mesir, dan ini kali pertama itu terjadi dalam sejarah. Di setiap sudut jalan, di saat matahari terik menyalak, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an selalu terdengar. Jalanan bersih tanpa kotoran. Ucapan santun terdengar dimana-mana. Bahkan ketika seorang pemuda melewati tenda demonstran wanita dan tak sengaja melihat lubang di dindingnya, ia lantas tutup lubang itu dengan bajunya. Dan merekalah yang Junta militer bantai hari ini! Yang mereka tuduhkan sebagai teroris! Orang-orang tanpa senjata, orang-orang yang justru membuat Mesir terlihat begitu bernyawa hari ini! Lalu dimanakah nurani? Apakah ia benar-benar ada atau hanya isapan jempol belaka?

Ironisnya lagi, negeri yang katanya memiliki jumlah penduduk Muslim terbanyak hanya diam membisu ketika saudara seimannya dibantai. Ditumpahkan darah. Hanya selasar kata “saya turut prihatin” dan himbauan agar orang-orang Indonesia tidak turut terlibat, tanpa ada gerakan keras untuk menghentikan pertikaian. Tanpa ada gerakan nyata untuk membela. Seakan-akan Mesir tak pernah ada dalam sejarah Indonesia, seakan-akan Indonesia telah lupa dengan dukungan Mesir saat perjuangan kemerdekaan dahulu. Bahkan kebanyakan mahasiswa kini justru diam dengan apa yang terjadi, bahkan tak sedikit yang menutup mata dengan kejadian ini. Hanya sedikit pemuda yang berani berkontribusi. Mengutuk dan rela berpanas-panas di jalanan karena tak ridha dengan darah yang tertumpah. Dimana para pemuda yang dulu menyuarakan revolusi penggulingan Soeharto? Lihatlah kawan, buka mata hati antum. Kondisi Mesir kali ini mirip dengan kejadian tahun 1988 di Negara kita. Lupakah antum dengan darah teman-teman kita di Semanggi dulu? Lalu kemanakah nurani itu pergi saat ini?

Ini bukan lagi masalah Internal Mesir! Ini bukan lagi masalah perpolitikan di negeri Fir’aun! Ini bukan lagi masalah agama! Ini tentang kemanusiaan! Apakah tak terbersit sedikitpun rasa prihatin dengan apa yang terjadi? Apakah tak tergerak sedikitpun jiwa-jiwa antum untuk berbicara? Ini tentang kemanusiaan kawan. Ini tentang orang-orang sipil tanpa senjata yang dibunuh. Tentang anak-anak kecil yang dibantai dan dilecehkan. Juga tentang para wanita yang harga dirinya diinjak-injak. Tak adakah sedikitpun rasa tergerak di hati antum tentang kejadian ini? Dan dengan ringannya antum berkata, “ah itu urusan mereka.” Lalu bagaimana jika nanti antum alami hal yang sama dengan mereka? Apakah antum akan mengemis belas kasih pada mereka, dan melupakan apa yang antum perbuat hari ini? Lalu dimana nurani itu bersembunyi saat ini? Demi Allah, mereka tak sedikitpun meminta untuk dikasihani oleh kita kawan, karena mereka yakin jika darah mereka tak sia-sia. Karena mereka yakin mereka ada di jalan yang benar. Karena mereka yakin bahwa Allah ada bersama mereka. Karena mereka yakin kematian mereka akan ternilai syahid.

Kawan, mereka yang terbantai itu bukan orang kafir. Mereka orang-orang beriman. Dan bukankah kita yang terjalin dalam satu aqidah adalah saudara. Lalu patutkah kita tertawa diatas genangan darah mereka? Patutkah kita menuduhkan hal-hal yang kurang baik pada mereka? Bahkan turut menebar fitnah yang ditujukan pada mereka? Jika ya, maka kemanakah nurani itu kalian usir? Sekali lagi ini bukan masalah kelompok, bukan masalah Negara, ini adalah torehan noda hitam diatas altar kemanusiaan! Adakah kau persiapkan jawaban ketika saudara-saudara di Mesir yang syahid hari ini bertanya padamu, “Kawan, kemanakah dirimu saat kami tertindas?”

Bukankah kita juga akan dimintai pertanggungjawaban tentang ikatan persaudaraan antar saudara seiman? Lalu jawaban apa yang akan kau berikan? Bergerak atau Mati. Jika tak mampu bertindak maka diam dan do’akanlah, jangan tumbuh menjadi pencela dan penyayat hati. Ini bukan soal siapa yang paling besar tubuhnya, paling lantang suaranya, paling tegap berdirinya, namun ini tentang siapa yang berani berkata kebenaran, benar dalam bersikap, dan hidup nuraninya. Salam Perjuangan. Uhibbukum Fillah.

Ankara

Muhammad Al-Fatih

LKSMIT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s