#Edisi 11 Kayseri -Lukmanul Hakim- Setiap Peristiwa ada Hikmahnya

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Kabar Ramadhan Edisi #11 from Turkey kali ini ditulis oleh salah satu Kontributor team yang berasal dari kota Unik dan Menyimpan Keindahan Pelangi di Waktu Senja, Kayseri, kisah yang ditulis dengan kesederhanaan yang jujur, dan ‪#‎menyentuh‬, khas anak rantau ‪#‎eh‬..

SETIAP PERISTIWA ADA HIKMAHNYA
Oleh : Lukmanul Hakim

84_kayseri_meydan.jpg

‘Dddrrrrttt’ getaran handphone membangunkanku dari tidur siang, lebih tepatnya tidur agak kesorean karena aku terlelap selepas shalat ashar. Hari ini memang berbeda dari hari-hari sebelumnya yang semenjak memasuki bulan ramadhan jam tidurku berbalik 180 derajat, hidup layaknya seekor kelelawar. Hari ini aku ingin kembali seperti manusia normal lainnya, dimulai di pagi hari bukan di siang hari.

Kelopak mataku masih terasa berat, tenagaku masih dalam proses pengisian ulang. ‘Dddrrrrttt’ getaran kedua dalam 2 menit terakhir. Dengan malas kucari asal muasal pengganggu itu. Kulihat ada 2 pemberitahuan sms masuk. “Ah, Cuma turkcell yang menawarkan promo” gumamku. Kubuka sms lainnya, tertera nama Ibrahim abi, orang turki yang tinggal serumah denganku. Kubaca sms darinya dengan penuh tanda tanya, smsnya memberitahukanku bahwa hari ini ada buka puasa bersama di rumah seorang pengusaha, dan mereka sudah di dalam tram way menuju ke rumahnya. Segera ku telpon untuk mendapatkan kepastian tapi yang menjawab malah seorang wanita tak dikenal memberitahukan pulsaku tidak cukup untuk melakukan panggilan.

Ah, kenapa mereka tidak membangunkanku ? Apa mereka tidak tahu aku sudah pulang sejak jam 5 tadi ?gumamku dengan kesal. Kulirik jam yang berada di sudut kanan atas layar hpku, 7:37 PM, sekitar 30 menit sebelum waktu berbuka. Kukumpulkan seluruh tenagaku untuk menggerakkan tubuh ini menuju dapur. Ironisnya, hari ini adalah hari selasa, hari penghabisan dari ikatan rantai makanan di rumahku.Hari dimana biasanya bahan makanan hanya tersisa puing-puingnya doang, dan akupun hanya menemukan sebutir telur ayam dan sedikit minyak goreng.

Dengan keadaan 3L kugerakkan tubuhku berjalan menuju hunat, kawasan yang sepanjang jalannya hampir dipenuhi dengan berbagai restaurant. Sesampainya di hunat langsung kuarahkan kakiku menelusuri setiap restaurant, melirik setiap menu yang ditawarkan. Restaurant di sini ternyata tak jauh berbeda dengan di Indonesia, banyak muda mudi yang terlihat duduk bersama menantikan adzan maghrib berkumandang. Tak berselang lama setelah adzan maghrib berkumandang, ku temukan restaurant yang menyuguhkan menu berbuka puasa sesuai dengan kriteriaku, enak dan murah.

Tanpa membuang waktu lagi, segera kumasuki restaurant itu dan lagi-lagi keberuntungan tak memihak kepadaku.Semua kursi yang disediakan telah terisi penuh. Enggan berlama-lama, kuputuskan untuk segera pergi ke mesjid terdekat guna mendirikan shalat maghrib. Di dalam mesjid hanya ada seorang lelaki paruh baya yang tampak sedang melaksanakan shalat. Usai shalat kuraih dompetku untuk memastikan uang yang kumiliki. Pemandangan selanjutnya yang kulihat begitu menyayat hati, menghilangkan semua harapan yang ada. Hanya 3 keping koin 1 lira yang mengintip malu dari balik bilik-bilik kain di dompetku.
Kemana perginya hartaku ???
**

Teman-teman tentunya bisa membayangkan dengan versinya sendiri apa yang terjadi apabila terdapat kursi kosong di restaurant itu? makan di restaurant tapi tak punya uang untuk bayar. Hanya ada satu kemungkinan yang dapat kubayangkan yakni menghabiskan sisa malam itu dengan kerja keras mencuci piring yang pastinya menggunung. Ketidakberuntungan yang kurasapun seketika berubah menjadi keberuntungan.

Kejadian ini mengajarkanku 1 hal, bahwa baik buruknya suatu hal akan dipengaruhi dari sudut sebelah mana kita memandang. Ibarat pelangi, yang tidak muncul di segala arah melainkan kita harus melihat ke arah yang tepat untuk bisa menikmati keindahannya. Namun terkadang, kita tak perlu lagi mencarinya, kita sudah melihat ke arah yang tepat, yang harus kita lakukan hanyalah terus melihat, dan menunggu. Menunggu waktu sang pelangi memamerkan keindahannya.

Hati ini pun bertanya-tanya. Apakah Ramadhan yang kujalani di kota yang terkenal dengan sucuknya ini, jauh dari tanah air dan keluarga merupakan ketidakberuntungan atau keberuntungan ? ah, biarlah waktu yang akan menyingkapkan tabir rahasianya.

Sering kudengar orang berkata kalau setiap peristiwa ada hikmahnya, dan kali ini aku benar-benar merasakannya.
Wallahu A`lam Bishawab.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]
Foto : suasana Kota Kayseri Meydani Senja di waktu berbuka ..

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Google.com

 —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s