#Edisi 12 – Adana- Tri Permata-Ingatlah Kisah Sebatang Pensil

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Kabar Ramadhan Edisi #12 from Turkey ini ditulis oleh salah satu Kontributor team Adana, sebuah perumpamaan sederhana yang mudah di cerna. Selamat membaca ^^

Ingatlah Kisah Sebatang Pensil

Oleh: Tri Permata Sari

[Adana]

pensil

Ramadhan, oh ramadhan. Ramadhan adalah muara merindu dan ruang bagi atmosfer mengurai segala kenangan. Kenangan yang terjadi didalamnya adalah bongkahan harta yang tak ternilai harganya. Dengan komposisi cinta, kesabaran dan keceriaan, Ramadhan begitu terasa gurih dan manis terasa seperti kue cookies bertabur chocolate kesukaanku.

Kini aku sedang berkelana ke negeri dua benua, dalam proses belajar menjadi orang, mencari jati yang tersembunyi didalam diri. Ramadhanku disini begitu berbeda dengan 11 bulan yang laIu yang penuh dengan suka ria. Itik mana yang sanggup jauh dari induknya, anak adam mana yang sanggup bertahan diluar lingkar zona nyaman keluarganya. Berpuasa di negeri orang mengajarkanku banyak pelajaran bernilai yang tak terdeskripsikan. Merantau menuntut pribadi ini prilaku sabar dalam setiap kondisi.

Berkatalah aku pada diri yang masih suka mengeluh ini “bersabarlah ketika keadaan bertanya kepadaku, untuk sahur mau pilih makanan pendamping roti apa? pilih keju putih, zaitun atau cabai goreng ?!, bersabarlah menunggu beduk yang lebih lama 2 jam dari waktu indonesia bagian barat, bersabarlah berpuasa sembari berteman dengan angin musimpanas yang hembusannya siang dan malam kadang tak ada beda panasnya. bersabarlah ketika orang Turki tahu kita adalah yabanci dari Indonesia, karena kemudian mereka akan meminta kita untuk memimpin membaca Zikir dan Al-quran tanpa menunggu jawaban kesiapan dari kita. Bersabarlah menanggapi 1001 pertanyaan kenapa kamu gak pulang? , kenapa kamu disini ? kenapa nama kamu Tri kenapa gak Aisye aja.

Dibalik dinding negri ottoman, tak lagi terhitung satuan waktu, sang raksasa tidurku terus memutar segala memoriam ramadhan dimasa silamku. Rindu, rindu, rindu…. Rindu melihat keringat bapak yang berkerja hingga malam, rindu menemani ibu mewejangkan makanan andalan, dan merindu ampau yang ku tunggu dari awal ramadhan dan Alhamdulillah selalu tiba di akhir akhir ramadhan, merindu shalat qiyamul lail bersama imam yang hafidz, ooh, ku merindukan semuanya. Yaa, rupanyanya hormone norepinephrine telah membekukan kenangan kenangan itu, pantas saja semua itu begitu jelas tergurat dan tergambar di benakku.

Ahh sudahlah, terlalu banyak mengenang membuat dadaku sesak. Sehari demi sehari ramadhanku berlalu, hingga sampai dititik dimana kutemukan sebuah perbedaan. Satu demi satu perbedaan yang kutemui, kusimpan dalam kamus kehidupanku, belum menjadi kapasitasku untuk menelitinya tapi setidaknya menuntutku lebih banyak belajar dan mencari kebenaran diantara kebenaran nisbi. “Ya Rabb, tujukkan aku jalan kebenaran, karena kebenaran hanyalah milikmu, “Ihdinas sirotol mustaqim”.

Ada satu peristiwa tidak biasa yang kutemui di malam terawih pertamaku di Turki. Aku biasa memilih terawih dengan 8 rakaat dan 3 witir, dengan alasan meneladani sunnah nabi SAW. Kembali pada Turki, rupanya serentak masjid masjid sholat tarawih 20 rakaat dan 3 witir. Sulit sekali bahkan belum kutemui masjid yang mengimami 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Dengan kedangkalan pengetahuanku tentang islam, untuk kondisi ini aku berusaha bersikap dengan berdasarkan dalil “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).Dengan harap mendapat pahala qiyam semalam penuh, ku gerakkan langkah ini menemui panggilan sholat.

Setelah imam mengucap takbir, kami dengan khitmat mengikuti. Setelah usai 20 rakaat dalam hati yang miris ku berdoa dan berharap Allah menerima sholat yang sejolinya lebih mirip senam SJK, semoga Allah juga menerima bacaan sholat kami yang secepat rembetan cahaya kilat. Masih ada peristiwa yang paling membuatku terheran heran, peristiwa yang belum pernah kualami sebelumnya di Idonesia, apa itu ? “witir 3 rakaat menggunakan tahiat awal”. Semakin kusadari kedangkalan ilmu agamaku, aku masih tak bisa menerima fenomena ini, dari mana datangnya ajaran witir 3 rakaat dengan tahiat awal. Kejadian ini memicu kontoversi di otakku, teringat seorang uztad berkata “Tiada bagi shalat witir yang tiga raka’at itu tasyahud/tahiyat awal”, karena sabda Rasulullah SAW:

لا تشبه بالمغرب
la tusyabbihu bil maghrib
“Jangan kamu menyerupakan Witir dengan Maghrib”.
Ya, Rabb ampuni ketidakfahaman ku. Waullahu alam bissawab.Astagfirullahaladzim.

Imajinasiku melayang, fikiranku terbuka, mencoba menilai dan mempelajari warna warni perbedaan. Seketika ku teringat pada peristiwa yang masih sejenis dengan hal ini. Peristiwa ini tak kalah membuatku terpaku ketika mengingatnya. Hari itu kami (aku dan nurul) mendapat undangan makan, aku datang tidak lain untuk makan, namun rupanya ada acara lain yang terselip dalam resepsi makan tersebut. Setelah makan mereka memulai acaranya. Dan tau apa acaranya ? “ Ragaib kandil gecesi” ya, mereka merayakan malam nisyfu sya’ban. Ah, sudah sering aku mendengar orang yang beramai ramai merayakan malam nisfu sya’ban, walaupun nabi Muhammad SAW tidak pernah merayakan atau beribadah secara berjamaah dimalam pertengahan bulan sya’ban. Nabi memang mempebanyak ibadah seperti membaca quran dan berzikir pada malam itu tapi tidak dilakukan secara berjamaah dan tidak pula melaksanakan sholat Ragaib atau disebutnya “kaza namazı”, yaitu sholat 100 rakaat dengan keutamaan bisa membalas sholat sholat yang dulu pernah tertinggal. Mencoba mencari secercah pencerahan. Walau hanya bermodal browsing ahkirnya ku temukan : Al-Hafidz Al-‘Iroqy berkata “ Hadits tentang sholat malam Nishfu Sya’ban adalah hadits palsu dan kedustaan atas nama Rosululllah Saw”, Imam Nawawy pun menerangkan ” sholat ragaib 100rakaat adalah kebid’ah-an yang mungkar”. Kedua pernyataan ini menghembuskan aroma kesepahaman dibenakku. Ya ! persis seperti guru SMA ku yang memang ahli tafsir Hadits.

Belum sesesai kawan, satu dari pemimpin mereka mematikan lampu dan berdoa sambil berteriak-teriak, tubuhnyapun ikut digerakkan sesekali, dan yang membuatku tercengang ia bersujud sujud sambil berkata “Khadijah Ra dataaaang”, “Aku juga mencium aroma wanginya”, tubuhnya semakin behareket dan teriakkanya semakin mencakar seisi rumah, anak anak bayi yang juga takut dengan fenomena ini ikut meramaikan suasana malam yang jauh dari rasa khidmat itu dengan mengangis histeris. Aku yang serba tidak tahu melayangkan sebuah pertanyaan “darimanakah dia tahu wajah Siti Khadijah Ra” “darimanakah dia tahu aroma kedatangannya, apakah pada zaman nabi ia pernah bertamu kerumah Khadijah Ra? ”. Allah ampuni aku jika aku melihat ini sebagai sebuah kekeliruan, ampuni kefakiran ilmuku, yang kutahu pasti “hanya engkau yang maha mengetahui” Waullahu allam bissawab.

Peristiwa demi peristiwa membuat diri ini semakin berpegang teguh pada petuah guruku, “hidup dinegara orang harus kuat dalam aqidah, dimanapun kamu berpijak tetaplah berpegang pada Quran dan Sunnah”.
Namun dibalik sebuah kesulitan hidup di negri orang, melahirkan mutiara-mutiara hikmah, baik mutiara yang sanggup ku tangkap maupun yang masih tersimpan didasar lautan karena belum sampai kefahamanku untuk menyelami dan mengambil mutiara-mutiara ilmu itu. Dıantara tetes air mata yang merindu dan serpihan perasaan yang mengharu kembali dan kembali pelajaran dari ibu melintas di benakku. Seorang wanita yang mengharamkan tidur setelah subuh bagi anak anaknya ini selalu membuatku berusaha lebih kuat, teladan nyatanya menjadi stimulan bagı tubuh ini untuk berhijrah meninggalkan kemalasan, ketakutan, kekhawatiran tehadap hal duniawi. Walau nyatanya aku belum sekuat itu, malah kadang hanya bisa selangkah lebih kuat menghadapi fase fase sulit disini.

Hembusan nafas begitu cepat terurai di udara dan berlalu tanpa bekas. Samahalnya dengan kehidupan. Hidup ini cepat berlalu, bisa saja berbekas dan bisa saja hilang tanpa jejak. Yang meninggalkan jejak ialah mereka yang sanggup bertahan bahkan berkarya dalam hidupnya. Belajar tentang kuatnya bertahan hidup, aku harus banyak belajar dari ‘Kisah sebatang Pinsil’, berikut kisahnya :

1. Pinsil adalah benda yang bergantung pada pemiliknya, menyerahkan diri sepenuhnya pada yang memegangnya (Tuhan)
2. Membutuhkan penghapus, untuk mengoreksi dan memperbaiki kesalahannya ( teman)
3. Demi menorehkan karya yang maksimal, pinsil melewati proses yang sulit dan menyakitkan yaitu peruncingan (kesulitan dan ujian hidup)
4. Patah bukan akhir dari segalanya (tak patah semangat)
Ketika patah sang pinsil harus sadar, bahwa ia perlu diruncingkan agar bisa kembali berfungsi, bahkan bisa lebih baik dari sebelumnya. Ketika menyerah untuk diruncingkan, sama saja dengan mati
5. Yang terpenting adalah inner-nya. Grafit (bagian dalam pinsil) yang kuat tidak akan mudah patah menghadapi tantangan demi tantangan dalam berkarya
6. Tinggalkan goresan. Pinsil meninggalkan goresan pada medianya hingga tak mudah terlupakan (olehkarenanya, berhati hatilah dalam berutur dan berucap dan bertindak)
7. Tinggalkan jejak karyanya. pinsil yang sering dipakai lama lama akan habis, apabila jejak yang ditinggalkan adalah sesuatu yang menawan, maka sesuatu itu akan dikenang sepanjang masa (tinggalkan makna setelah kepergian)

Perjalanan ini masih panjang. Terlalu dini untuk mengeluh. Terlalu lemah untuk merasa tak sanggup. Angkat kedua tangan dan berdoa dengan penuh harap kepada sang pemilik jiwa : “Allahumma ‘audzubika minal aj zi wal kasal, wa ‘adzubika minal jubni wal bukhl, wa ‘adzubşka min gholabtid daini wa qohri rijaal’.

Yang berarti “Ya Allah aku berlindung kepadaMu. dari rasa gelissah dan sedih. dari kelemahan dan kemalasan. dari sifat pengecut dan bahkhil. dari tekanan hutang dan dari kesewenang wenangan orang. Amiin.”. (untuk seseorang disana, terimakasih telah mengajarkan doa ini).

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Google.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s