#Edisi 15 Al-akh Abdul Aziz-Kahramanmaras- 1434’te Bir Ramazan Hatırası

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Sahabat LKS Mit- Sebuah catatan Ramadhan Edisi #15 yang di tulis dengan indah oleh tangan terampil penulis. Menggambarkan kota dengan rasa yang berbeda. Runut dan renyah di baca. Selamat membaca.

——-

1434’te Bir Ramazan Hatırası
Oleh. Al-Akh Abdul Aziz

163D2BE415BCBD30

Selalu ada cerita di sepanjang perjalanan kehidupan. Di setiap tahun, setiap bulan, minggu, hari, dan bahkan menit sekalipun akan memiliki cerita unik tersendiri. Tim khusus dari LKS MİT mengambil langkah yang tepat, tepat di saat bulan penuh berkah ini menghampiri kita, untuk mengumpulkan dan berbagi cerita yang berbeda-beda, khas akan budaya yang beraneka, tentang Ramadhan di seluruh penjuru Turki, Anatolia.

**

Kahramanmaraş

İni nama sebuah kota. Terletak dalam kawasan Akdeniz—Laut Tengah di belahan Turki. Kota ini paling terkenal dengan dondurma—ice cream, tarhana—macam kripik, dan biber—cabe. Kota yang bersejarah, penuh dengan perjuangan, seperti halnya Surabaya yang berjuluk kota pahlawan, kota ini pun berjuluk Kota Kahraman (red;pahlawan). Sudah 3 tahun saya disini, jauh dari tanah air, menjelajah dan berkelana, melihat dunia, meraba dan merasakan kehidupan sebagai pelajar, profesi paling bergengsi bagi saya.

Pelajar di Turki tidak seperti di İndonesia. Disini pelajar dihargai, dihormati, dibantu, dan diharapkan. Mereka menyebut pelajar dengan “öğrenci”. Kata öğrenci ini mungkin seperti kata suci, cukup kita perkenalkan diri sebagai öğrenci, jika kepada pedagang pasti dia akan memberikan diskon, kepada supir angkot dia tentu tidak mengambil biaya sebagaimana seorang penduduk biasa, ada kortingan tersendiri. Apalagi kami—Öğrenci asing, yang jelas jauh dari tanah air. Tak jarang kami malah mendapatkan gratisan, tanpa bayaran maupun kortingan.

Camping

Ramadhan kali ini berbeda. Serasa bukan sebuah libur untukku, tidak seperti anak mahasiswa lain yang berlibur di tanah kelahiran masing-masing. Saya sedang menuntut ilmu di fakultas İlahiyat di sebuah Universitas di kota ini. Mahasiswa İlahiyat (Teologi İslam) setingkat dengan mahasiswa fakultas Usuluddin di İndonesia. Hanya fakultas ini saja yang terlihat paling islami di Turki. Ketika seorang mahasiswa mengatakan ben ilahiyatcıyım (saya seorang mahasiswa İlahiyat) seketika semua permasalahan keagamaan akan diserahkan kepada kita, seperti tilawah Al-quran, mengimami sholat, membaca doa-doa, dan seterusnya.
Camping, mungkin kita mengira ini adalah sebuah acara di lahan pegunungan bukan? Namun di Turki kata ini digunakan untuk sebuah acara membaca buku dalam periode waktu tertentu. Ada yang seminggu, sepuluh hari, atau bahkan sebulan dua bulan. Hanya bergelut dengan buku-buku bacaan saja, dari pagi hingga petang.

Camping sudah menjadi kebiasaan saya dan teman-teman seperjuangan, dan merupakan acara wajib setelah pendidikan kampus ditutup alias liburan. Liburan datang, bukan berarti kemudian tidak mengerjakan apapun. Nah, pada umumnya öğrenci di Turki saat liburan mengadakan camping seperti ini.

Tahun ini liburan berbarengan dengan Ramadhan. Camping yang saya ikuti pun berakhir hingga pertengahan Ramadhan. Ada tiga camping yang saya ikuti, namun hanya satu yang akan saya bagi. Yaitu, camping anak ilahiyat.
Niatnya camping ini sebulan penuh. Bertempat di sebuah asrama pelajar yang luar biasa megah. Ada sekitar 70 orang peserta dari berbagai kota di Turki. Tidak semuanya pelajar Turki, ada kami pelajar asing, yang jelas semuanya mahasiswa İlahiyat. Tujuan camping ini tidak lain dan tidak bukan untuk memberikan pelajaran tambahan yang tidak diajarkan di kampus Universitas. Umumnya yang fokus kami baca saat camping ini adalah buku-buku bahasa Arab saja.

Bagaimana? Apa Ramadhan yang seperti ini tidak asyik kawan? Mau tahu asyiknya? Silahkan simak urutan kegiatan kami selama disini.
Tidak ada tidur malam untuk Ramadhan saat ini. Selain memang malam Ramadhan di Turki itu sempit, kami sengaja memanfaatkan waktu-waktu dimana Allah menurunkan keberkahan di saat itu juga. Waktu tidur kami hanya berpindah jam, yaitu setelah sholat subuh hingga pukul 11.00. kehidupan kami bermula dari sini. Kami mulai dengan berwudhu, lalu menunaikan ibadah sholat dhuha, lalu setelahnya kami menuju ke kelas yang sudah ditentukan dengan membawa buku Tafsir berbahasa Arab.

Mukabele

Mükabele, dalam bahasa kita biasa disebut dengan tadarrus. Keduanya sebenarnya sama saja, mungkin ada sedikit berbeda. Bedanya, ketika mükabele semua memegang Al-quran dan menyimak bacaan, ditambah lagi kita dianjurkan mengikuti dengan gerakan bibir bacaan Al-quran itu. Tahun pertama di Turki saya melihat acara mükabele seperti ini di sebuah masjid İstanbul. Tepatnya setelah azan subuh, sembari menunggu jamaah datang. Seorang Hafiz membaca Al-quran di depan dan jamaah yang datang menyimak dengan seksama.

Masih dalam acara camping. Usai sholat dhuhur kami langsung mengambil Al-quran masing-masing untuk mükabele bersama. Satu hari kami bisa menyimak satu juz bacaan Al-quran, bahkan kadang lebih. Kadang juga saya diizinkan untuk membacakan beberapa halaman Al-quran, bergantian dengan teman yang lain.

Sohbet

Tiada hari tanpa sohbet, semacam ceramah pendek tentang tema-tema tertentu. Acara ini bergantian dengan mükabele. Kadang sohbet dulu baru mükabele, kadang juga mükabele dulu baru sohbet. Materi yang diberikan oleh kakak pembina umumnya dari buku Risalah Nur karya Said Nursi, ulama terkenal Turki.

Iftar

Ramadhan bulan yang sangat berkah, tidak perlu diragukan. Hampir setiap hari kami mendapatkan undangan jamuan berbuka puasa, baik ke rumah-rumah, ke taman piknik, ke sebuah restoran, bahkan aula besar yang menyediakan buka puasa sekalipun. Semua orang berlomba-lomba memberikan jamuan berbuka puasa. Saat yang sangat menyedihkan adalah ketika ada dua atau tiga undangan yang bertabrakan pada waktu yang sama, sulit untuk menolak undangan itu.

Di tempat lain, saya menjumpai sebuah kemah besar yang didirikan khusus untuk berbuka puasa. Kemah itu bernama “Ramazan Çadır” yang dikelola oleh pemerintah daerah sini. Jadi, pendatang dipersilahkan datang menikmati santapan berbuka, berterima kasih lalu pergi lagi.
Alangkah indahnya ramadhan! Semua berlomba untuk berbuat baik! Lebih dan lebih…

Sholat Tarawih

Alhamdulillah, saya mendapatkan amanah sebagai muazzin dalam jamaah tarawih. Meski tidak setiap hari, namun itu merupakan kehormatan besar, apalagi saya adalah seorang mahasiswa asing. Banyak yang jatuh hati dengan suara khas İndo saya, apalagi dicampur dengan irama khas Arab.
Tarawih saya tidak pernah tetap, selalu berpindah-pindah. Karena perpindahan yang sering ini saya tahu tidak semuanya sama. Rata-rata mereka sama dengan kita di indonesia, 20 rakaat dan 3 witir. Tarawih disini kadang terlalu cepat, susah untuk mendapatkan kekhusyu’an karena cepat membuat hati tidak tenang. Setiap rakaat rata-rata dibacakan dua ayat Al-quran saja. Namun tidak semuanya seperti itu. Ada beberapa Masjid atau tempat yang sengaja perlahan demi kekhusyu’an, bahkan ada di beberapa tempat yang sholat tarawih dengan satu juz di setiap malamnya.

Suatu malam, selepas shalat tarawih. Ketika saya sedang menyimak ceramah, tidak sengaja mata saya tertuju pada seorang anak. Anak itu masih kecil, mungkin seumuran 11-12 tahun. Waktu itu semua orang mendengarkan ceramah dengan hikmat. Namun anak ini berbeda. Dia memejamkan mata, mengangkat kedua tangannya, mulutnya berkomat-kamit membaca doa, kepalanya tertunduk kepada sang Kuasa. Hati saya terketuk. “Dia masih anak-anak,” kata saya dalam hati. “Kenapa bisa dia begitu mencoba khusyu’ melantunkan doa-doa?” saya malu dan teringat sebuah cerita tentang Khalifah Umar.

Suatu hari khalifah Umar bin Khattab sedang pergi menuju mesjid. Di tengah perjalanan dia melihat seorang anak kecil yang berlari ke mesjid. Lalu khalifah pun bergegas mempercepat langkahnya dan kemudian mendekatinya.

“Hai anak kecil, bukankah sholat bagimu belum wajib?” Tanya Umar.
Anak itu pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, di daerah tempat kami tinggal kemaren baru saja ada seorang anak yang meninggal.”

Ramadhan dan Kahramanmaraş

Sekilas pandang, di bulan Ramadhan kota ini cerah sekali. Bersinar dengan jutaan keberkahan yang Allah berikan. Sudah biasa, Ramadhan selalu datang pada musim panas. Siang berjalan panjang dengan udara panas yang datang, malam berjalan pendek namun sejuk dengan hembusan angin kasih sayang Allah. Maka dari itu, siang jarang ada yang berlalu lalang. Berbeda jika petang datang, ketika waktu berbuka sudah mendekati, deretan toko makanan yang disamping Ulu Camii itu ramai sekali. Pejalan semakin banyak seiring malam yang semakin pekat. Mereka berjalan tidak sendiri, ada keluarga yang meramaikan. Menikmati udara malam yang sejuk, lalu duduk tertawa ria bersama di atas tikar yang terhampar di sebuah taman depan Ulu Camii. Begitu ramai, hampir seperi alun-alun di tanah air kita.

Tahun pertama menjalani puasa Ramadhan di Turkisaya melihat ada spanduk besar yang tertulis “Güle Güle Ramazan” (Sampai Ketemu lagi Ramadhan). Mungkin di ujung bulan Ramadhan ini akan dipasang spanduk yang sama. Ungkapan perpisahan yang mendambakan kedatangan Ramadhan yang selanjutnya. Ada satu ucapan lagi “Ramazan bayraminız mübarek olsun”, ucapan ini akan ramai diucapkan sebagai doa dan sapaan di hari kemenangan 1 Syawwal nanti.

Kami, Pelajar İndo

Ada satu lagi hal penting yang perlu saya bagi. Pelajar İndonesia di kota ini hanya ada kami bertiga saja. Bayangkan betapa kesepiannya kami? Namun kehangatan Ramadhan memang memberikan kehangatan dan merekatkan kami. Sampai hari ini kami masih bersama, tinggal di bawah satu atap, menyediakan santapan buka dan sahur bersama dengan menu-menu khas tanah air, tentunya khas perantau yang ala kadarnya. Berjamaah bersama, ke masjid bersama, pokoknya selalu bersama. Pokoknya Mantap!

“Ya Allah, pertemukanlah kami kembali dengan Ramadhan di tahun depan nanti.” Amin.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]
Foto : Kahraman di malam hari dengan masjidnya yang fenomenal

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Google.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s