#Edisi 17 -Altin Kalemi- Bursa- I’tikaf Antara Dua Negara

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

 I’tikaf Antara Dua Negara

 Oleh : Altin Kalemi

800px-71_Bursa_la_Grande_Moschea

Bursa Grand Mosque – Ulu Camii

I’tikaf dalam pengertian bahasa bermakna berdiam diri yaitu tetap di atas sesuatu, sedangkan dalam pengertian syariah agama bermakna berdiam diri di mesjid untuk mencari ridha Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas segala perbuatannya (sumber: pesantren virtual.com). Pada bulan ramadhan khususnya 10 malam terakhir muslim di seluruh dunia berduyun-duyun menuju mesjid untuk melaksanakan i’tikaf. Hal ini pun sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW “Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Adapun salah satu tujuan masyarakat beri’tikaf adalah untuk mengisi sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan untuk menjemput “Lailatul Qadr” yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakan malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.” Q.S Al Qadr: 1-5. 

Besarnya keutamaan Lailatul Qadr yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW membuat Nabi Musa iri kepada kita semua. Oleh karena itu, sangatlah lazim ketika kita melihat mesjid penuh hingga pagi hari khususnya di 10 malam terakhir. Tak terkecuali pun saya yang alhamdulillah semenjak bangku SMA sudah merasakan nikmatnya i’tikaf bersama dengan sahabat tercinta. Sejujurnya ketika SMA belumlah paham akan makna i’tikaf itu sendiri. Berawal dari hanya ikut-ikutan hingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan sampai dengan saat ini, meskipun pada saat di universitas sempat futur (iman turun) sehingga jarang beri’tikaf pada saat itu.

Namun alhamdulillah Allah masih berkenan untuk saya kembali ke jalan-Nya.  Perjalanan melaksanakan i’tikaf semasa di Indonesia sangatlah jauh berbeda dengan saat ini dimana saya sedang menimba ilmu di negeri dua benua, Turki. Di Indonesia, pada umumnya mesjid mengadakan Mabit atau I’tikaf khususnya di sepuluh malam terakhir meskipun ada juga beberapa mesjid yang selama bulan ramadhan mengadakan I’tikaf selama satu bulan penuh. Berbagai rangkaian acara dilakukan baik itu oleh swadaya masyarakat atau perusahaan baik swasta atau negeri, mulai dari bedah buku, kajian tematik, Qiyamul Lail dan tadarus Qur’an hingga tak terasa semalam suntuk kita bercengkerama bersama dengan Allah SWT.

Sama halnya dengan umat muslim lainnya, saya pun turut berlomba mengisi malam suntuk untuk bermunajat kepada Sang Pencipta mensyukuri atas nikmat dan karunia yang diberikan-Nya. Saya bersama rombongan teman-teman biasanya setelah melaksanakan tugas kantor (umumnya hingga larut malam) langsung bergegas baik ke mesjid kantor (hari-hari tertentu) atau mesjid di dekat kantor. Mesjid yang setiap harinya buka dan disesaki para pegwai kantor di sekitar kawasan, mahasiswa atau masyarakat umum terutama dari luar wilayah Jakarta seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Tangerang. Sebut saja Mesjid Baitul Ihsan di wilayah perkantoran Bank Indonesia (mudah2an ada yang tahu). Umumnya di sana banyak rangkaian kegiatan acara tidak hanya di bulan ramadhan tapi juga di bulan-bulan biasa. Di sanalah saya bersama sahabat-sahabat yg jomblo menghabiskan malam ramadhan berharap memperoleh Lailatul Qadr. Terkadang kami juga mencicipi tuk beriktikaf ria di mesjid lain seperti Mesjid MNC, Mesjid At-Tiin, Mesjid Istiqlal dan beberapa mesjid lainnya di Jakarta dan sekitarnya.

Namun hal ini sangat jauh berbeda ketika saya merasakan nafas ramadhan di bumi Al Fatih – Turki. Heran, Aneh, Cengong-boleh dibilang seperti itu ketika saya merasakan awal ramadhan di sini. Sejujurnya apa yang ada dibayangan saya seluruhnya pupus ketika menjalankan keseharian di negeri ini. Saya sempat bertanya-tanya dengan keheranan apakah iya ini negeri yang pernah menjadi pusat pemerintahan kekhalifahan Islam? Apakah iya negeri ini berpenduduk mayoritas islam. Mengapa saya bertanya seperti itu?  Karena di otak  saya bersarang pandangan ideal sebuah negeri yang Islami dimana saya berharap malam-malam ramdhan khususnya di sepuluh malam terakhir mesjid-mesjid dipenuhi sesak oleh jamaah untuk beri’tikaf, namun kenyataannya hal itu hanyalah ada di dalam imajinasi saya.

Sejujurnya hingga hari ini saya belum berhasil menemukan mesjid yang mengadakan i’tikaf sebagaimana seperti di Indonesia. Saya sudah mencoba bertanya langsung kepada imam dan jemaah mesjid di daerah dimana saya tinggal. Mereka pun memberikan jawaban yang sama “tidak ada i’tikaf”. Namun, ada sebuah mesjid di dekat asrama dimana saya tinggal dan memberikan jawaban yang agak berbeda. Malam itu saya dan beberapa sahabat dari negara lain memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada imam mesjid. “Hoca, burada on en son gunu itikaf var mi?” tanya saya. Hoca (panggilan untuk orang berilmu) yang sudah bermahkotakan rambut putih dengan ramah dan senyumnya menjawab “Tamam, istersen buraya gelebilirsiniz, insya allah biz ikram yapacagiz” jawab Hoca. Maksudnya adalah “jika kalian ingin i’tikaf di sini monggo kami persilahkan insya allah nanti akan kami bantu”.

Kami pun merasa senang meskipun pada akhirnya kami urungkan niat untuk beri’tikaf di mesjid tersebut karena tidak ingin merepotkan beliau. Namun demikian, meskipun tidak peroleh mesjid untuk beri’tikaf akhirnya kami memutuskan untuk beri’tikaf bersama di Mescit (mushalla jika di Indonesia) asrama. Adapun kegiatan yang kami lakukan meliputi tadarus Qur’an dan Qiyamul Lail berjamaah. Kami secara bergantian menjadi imam meskipun dengan memegang mushaf. Dalam satu malam kami targetkan membaca 1-2 juz pada saat melaksanakan Qiyamul Lail. Alhamdulillah, meskipun dengan suasan yang jauh berbeda dengan negeri tercinta, saya bersama dengan teman-teman dari negara lain dapat menghabiskan malam ramadhan kami, khususnya di sepuluh malam terakhir dengan beribadah kepada Allah SWT dan berharap memperoleh malam yang lebih baik dari 1000 bulan yaitu Lailatul Qadr.

Ini cerita saya, Mana cerita Kamu???

Ramadhan in Orhangazi Dormitory.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : wikipedia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s