#Edisi 16 -eveahira168123- Istanbul- My Marathon Ramadhan

MY MARATHON RAMADHAN

By: eveahira168123

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

DSCN6108

 Novi Pazar [Kota Muslim], Belgrade 

  • 1. Resah  [Istanbul-Turki, 10 – 13 Juli]

“I saw it on facebook, they give it for free”

“Oh really? Then we will go”

Percakapan ini akhirnya membawa kami berputar-putar sekeliling Sultan Ahmet. Tapi lama berkeliling kami tak kunjung menemukan barang yang kami cari. Kami mulai resah karena waktu kami hampir habis. Putus asa. Kami akhirnya memutuskan pulang ke asrama. Dengan keterampilan mata saya yang jeli. Di balik gerbang sebuah Masjid di daerah Beyazit mengantarkan kami akhirnya pada tujuan jalan ke Sultan Ahmet: “Ta’jil gratis!”. Resah kamipun hilang sirna berganti gembira.

2. Tisu Basah yang Aneh [Belgrade-Serbia, 14 – 16 Juli]

Air mineral, peta kota Belgrade, conference kit dan kotak ukuran A4 yang berisi tisu basah sudah tersedia di front desk penginapan conference. Setelah meletakkan semua barang-barang di dalam kamar, saya ke hall room untuk mengakses internet, kembali mata saya tertuju pada kotak tisu basah yang terlihat sedikit aneh.

***

“Ayolah kita kemasi barang sekarang juga! Kita pergi ke rumah temenmu besok pagi! Jangan ditunda-tunda!”

Ketika sedang menjelaskan tentang kripik pisang “banana chips” dan krupuk udang “shrimp chips” di acara Country Fair Conference teman saya terus menarik-narik tangan saya agar mengemasi barang dan mencabut bendera Indonesia yang terpampang gagah di belakang stand kami. Entah kesambet jin apa hingga ia seperti cacing kepanasan yang minta pulang.

***

Ada sebuah foto yang di upload panitia dengan caption “always play safe” dengan dua orang memegang tisu basah yang sering saya lihat di front desk. Kondom. Saya beristigfar berulang kali.

***

Teman saya seperti cacing kepanasan dihari itu karena ia melihat hal-hal aneh, sedang saya sibuk sendiri memperkenalkan banana chips dan shrimp chip tanpa memperhatikan kejadian disekitar.

3. Negeri Seribu Cahaya [Novi Pazar-Serbia, 17 – 21 Juli]

I want more brother and sister, so that more Muslim in the world”. Ucap M*s*h*, teman dari teman saya. Kami dititipkan dirumahnya. Saya takjub dengan kata-katanya padahal ia sudah memiliki dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Ia berkata seperti itu dihari ketiga ia mengenakan jilbab.

***

“Look at the long beard man, he was Christian Ortodox Serbian but then he converted to Islam and now become trully Muslim with long hijab wife” katanya sambil menyetir mobil.

***

Dunia mungkin tak mengetahui bahwa ada sebuah kepingan surga yang terlempar dan jatuh di Serbia. Sebuah kota yang terletak di ujung perbatasan Serbia dan Kosovo. Sebuah kota yang di tengah-tengahnya sungai mengalir. Sebuah kota hijau surga dunia. Sebuah kota dimana puasa dijalankan, sholat ditegakkan. Sebuah kota bernama Novi Pazar, Negeri dengan Seribu Cahaya.

4. Datang Sejenak (Tekirdag)

Jalan-jalan ke Hayrabolu, jauh-jauh sekali, kiri-kanan kulihat saja banyak bunga matahari. Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam, menanam bunga matahari.

[pelesetan lagu naik-naik kepuncak gunung dan cangkul yang kami nyanyikan bersama dimalam buta bersama *l*y*, H*d*y*, dan H*d*]

***

Datang sejenak di kota asri nan tenang dengan hamparan ladang bunga matahari dan keramahan keluarga bahagia itu, mengajarkan saya bahwa ada kalanya momen itu cukuplah untuk dikenang. Tak perlu diabadikan melalui jepretan kamera, cukuplah ia dikenang dihati sampai mati.

5. Masjid [Bandara Sabiha Gokcen Istanbul, 27 Juli]

Masjid adalah rumah kedua yang selalu terbuka untukmu, baik dalam keadaan ingkar atau taat. Dalam keadaan miskin atau kaya. Dalam keadaan susah atau senang. Dalam keadaan muda atau tua dan dalam keadaan tak ada tempat untuk berlindung dari gelapnya malam.

[edisi tak tau mau numpang tidur dimana, terpaksa numpang tidur di mushola bandara agar tak telat pesawat ke bodrum esok hari]

6. Ayunan IKAROS RESTO (Gocek-Mugla, 28 Juli – 12 Agustus )

Hari pertama saya di Gocek, saya melewati sebuah restoran yang menawan hati, ingin sekali rasanya bisa duduk di salah satu kursinya yang nyaman. IKAROS RESTO namanya. Kursinya memiliki dwifungsi sebagai ayunan. Pas! Berayun di atas kursinya sambil menatap pantai biru daerah Gocek yang terhampar di depan mata akan jadi momen yang sempurna. Tapi khayalan ini cepat-cepat saya enyahkan dari otak. Pasalnya, uang yang tersisa hanyalah beberapa puluh lira. Untunglah tiket pesawat dan makan ditanggung teman. Kalau tidak, menggembellah saya disini.

***

“Hey friend, come here”

Saya dan teman saya saling menatap aneh karena tiba-tiba ada sekumpulan orang dari sebuah restoran memanggil kami. Tak berani mengambil resiko kami cuek saja duduk melepas lelah di sebuah bangku membelakangi pantai. Tak lama kemudian salah satu dari mereka mendatangi kami.

“come, come”

Dengan setengah heran bercampur curiga kami mendatangi mereka

“Come and sit, I am the oowner of this restaurant. I know you are from Indonesia, my grandfather is Indonesian, you see my skin? Sizin gibi”

Memang kulitnya coklat dan rambutnya kriting, hanya saja hidungnya mancung seperti orang Turki. Tak lama berbincang, dia kemudian memberikan kartu namanya sambil menunjuk kursi ayunan “When you feel bored at home you can come and sit here and drink tea for free”. Saya membaca kartu namanya Z*ht*K*r*b*c* IKAROS RESTO. Ternyata do’a yang hanya terbersit dalam hatipun Allah kabulkan.

Ramadhan Mubarak.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Admin’s Collection

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s