#Edisi 18 Adi Surya -Adana-Bertemu Ramadhan di Singapura

Bertemu Ramadhan di Singapore

Oleh : Adi Surya

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

 

Singapura

Salah satu sudut ruang, Singapura saat Ramadhan

Jelajahilah dunia, bacalah kehidupan, keadaan sosial dan budaya suatu bangsa. Kira-kira itulah yang menjadikanku selalu bersemangat menjelajahi tempat-tempat baru. Ditambah lagi penggalan Al Quran dalam surat  Al-Jumuah ayat 10 yang menjadi motivasi dalam menjelajah buminya Allah SWT. “Faidza qudiyatussolatu fantasyiru fil ardhi wabtaghu min fadhlillahi wadzkurullaha katsiron laallakum tuflihun” Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Kagum dengan akhlaq/perilaku masyarakat negeri singa. Seakan bertemu wajah islam di Singapore. Banarlah bahwa negara maju terbentuk dari pribadi – pribadi yang mempunyai perilaku yang baik. Pekerja keras, disiplin, tertib, mencintai kebersihan, saling menghormati dan paham akan hak dan kewajiban. Pusat kota Singapore mulai bergeliat sejak pukul 4 pagi. Ada pemandangan yang tidak biasa ketika menunggu subuh di pusat kota ini. Muslim di Singapore terbiasa menunggu subuh di Masjid Jami An-Nur sebelum menuju tempat kerja. Halaman masjid penuh dengan kendaraan yang terparkir. Sholat subuhpun terasa khusu’. Bukan dua, tiga shaf tetapi masjid dipenuhi oleh jamaah sampai serambi. Benar-benar pagi di bulan Ramadhan yang penih berkah. Mengawali hari dengan munajat kepada Ar-rozaq.

Lelah seharian mengelilingi negeri yang terkenal dengan pusat belanja, kesehatan dan fashionnya, kaki ini terus melangkah sampai pada sebuah masjid di daerah perkampungan muslim india. Saup-saup adzan asharpun berkumandang. Sejuk, sejuk sekali. Bagai menemukan oase ditengah-tengah sahara. Ditengah hingar bingar kesibukan orang-orang yang bekerja dan berbelanja, pastilah suara adzan sangat menenangkan bagi komunitas muslim di daerah “small hindia”. Maklum saja, mayoritas penduduk negara singa ini bukanlah muslim. Dalam waktu yang singkat masjid penuh, para pedagang, pekerja ataupun masyarakat biasa berkumpul untuk menunaikan sholat ashar berjamaah. Seusai jamaah sholat tidak membubarkan diri. Hal yang sangat jarang ditemukan. Ternyata mereka menyempatkan diri untuk membasahi lidah yang kering karena berpuasa dengan tilawah Alquran. Subhanallah.

Selang beberapa saat panitia Ramadhan Masjid komunitas muslim India yang terdiri dari ibu-ibu dan remaja memulai aktifitas menyiapkan ifthor. Ada yang mempersiapkan buah, kurma, dan roti khas India. Roti Cane yang dimakan dengan gulai kambing. Bagaikan dapat durian runtuh. Bisa melihat kehangatan muslim india sekaligus mendapat ifthor gratis. Rizqun min haitsu laa yahtasib. Disela sela memperhatikan dan ngobrol dengan pemuda india ada seorang bapak yang menghampiri. Indonesia? Dia bertanya. Ya, saya jawab. Ternyata bapak itu adalah rombongan jamaah tabligh yang sedang melakukan khuruj di Singapore. Terbayang pengorbanan yang dilakukan mereka demi bersilaturohim dengan muslim yang ada di Singapore dan menghidupkan masjid. Subhanallah.

30 menit menjelang adzan maghrib, masjid kembali dipadati oleh muslim dari berbagai etnis, ada india, china dan melayu. Ternyata kebiasaan saling mengunjungi saat bulan Ramadhan sudah menjadi kebiasaan. Sebelum berbuka Imam masjid berkhutbah tentang keimanan. Menjaga keimanan yang senantiasa naik dan turun. “Bacalah Alquran dan berkumpullah dengan orang yang sholeh untuk menjaga iman kita” Jelas sang Imam. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Alhamdulillah adzan berkumandang, doa berbuka dilantunkan secara berjamaah. Pengalaman Ramadhan di negeri singa ini sungguh berkesan.

Banyak pelajaran yang di dapat dari akhlaq masyarakat Singapore. Wajah Islam benar-benar terlihat disini. Sepanjang mata memandang tidak menjumpai sampah yang berserakan. Sikap tertib ketika mengantri di transportasi publik dan saling menghormati benar-benar membuat hati ini membatin. Kapan bangsaku mempunyai akhlaq seperti mereka? Mudah-mudahan dengan terus belajar dan membaca perilaku sosial pelan-pelan bisa merubah perilaku kita. Ramadhan Mubarok.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s