#Edisi 19 -SketZ- Adana – (A2) Adana – Ankara

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

(A2) Adana – Ankara

Oleh : SketZ

2013-01-05 12.24.59

Masjid Haji Bayram, Ankara

Tulisan ini, tulisan bekas sisa sisa kelelahan dalam perjalanan. Tulisan yang jika diserasikan dengan angkasa, masih belum sama dengan harga nilai bakteri. Tulisan yang jika dibaca dengan mata akan sangat terjenuhi. Tulisan yang … Tulisan yang sebanarnya aku masih merasa minder untuk diceritakan.

Memasuki minggu terkahir bulan penuh ampunan. Tepatnya 25 ramadhan, 5 hari sebelum datangnya hari kemenangan. Setelah ku jawabkan pertanyaan pertanyaan mereka (mereka yang selalu menanyakan “akan berlebaran dimana kalian?”), ku habiskan uang sekian tl untuk menjauh dari peradaban kotaku menjalur ke ibu kota Turki, Ankara.

Dan dalam penjaluran itu banyak serpihan serpihan menarik yang ingin ku ceritakan …

Awalnya tak tahulah kami bahwa mereka yang cowok akan pergi ke Ankara dihari yang sama dengan kami yang cewek. Awalnya pun enggan harus betah bersama dengan lawan jenis di kereta yang sama dengan waktu yang tak singkat, setengah hari, 12 jam, bahkan lebih.Ya walaupun pada kahirnya kami berangkat bareng dengan perjanjian saling menguntungkan diantara dua pihak.

Bukankah cowok harus lebih mengalah? Hehe. Entah itu terpaksa atau tidak, mereka yang membelikan kami tiket. Hanya itu? Tidak. Mereka sengaja dipaksa membawa nasi dan air. Sedang kami terusik dengan makanan yang akan kami bawa untuk buka dan sahur.Ayam.

Berapa jam sebelum keberangkatan, kami masih dengan rencana yang kemarin. Namun, alam menguji kami, mencoba membuat kami untuk selalu mengingatNya, mencoba membuat kami bisa tertawa dengan caranya. Ya yang tak terduga selalu datang. Dengan tersenyum seraya mengucap, “Nurul sayang Allah, tetap uji nurul dengan caraMu yang indah ya Rab..” sepercik penghalang pun terlalui.Mulai dari kejar kejaran waktu sama bis, dijutekin sama mbak mbak yang jual ayam, sampe harus tanya kesana kemari arah jalan kestasiun kereta. Haha sungguh pasti saat itu alam sedang mentertawakan aku. Menertawakan wajah panikku.

Nggak Cuma itu.Waktu aku sadari ayam yang aku beli tak sebanyak yang aku bayangkan, alam pun sedang menertawakanku. Dengan gegas mencari jawabannya. Ketemu. Kami beli ayam lagi didalam restoran kereta api. Ya walaupun tak segurih ayam yang sebelumnya kami beli. Hehe.

” Bissmillahi majreha wamursaa haa inna rabbi laghafururrahim.” Dengan anteng ku baca doa perjalanan, keretapun anteng dikendarai oleh masinisnya. Selang berapa saat, lelah itupun tersampaikan dengan segelas air putih dan jus melon. Waktunya berbuka dengan ayam yang baru kami beli. Sedang yang lain sudah melalap, aku masih meneguk air sambil merenungi, “Ah sungguh kali ini alam berhasil membuat ku tertawa. Aku lalui hari ini dengan sangat tak terencana dan masih tak kupercayai. Ada pelajaran indah dihari ini rupanya.”

Selang diantara usai magrib dan isya, aku lebih milih untuk tadarus. Karena inginku seusai isya menyegerakan langsung bisa tidur.  Tapi entahlah posisi tak enak dibawa tidur. Ya walaupun akhirnya lagu lagu dari hp memaksa aku untuk tidur.

                                                                                                *****

Waktu sahur itu datang. Sebenarnya masih enggan untuk membuka mata apalagi membasuh muka. Tapi sahur pun terkendalikan seusai tahajud. Nggak banyak. Karena perut masih belum siap kehadiran nasi selepas berbuka kemarin.

Tik tok walaupun adzan tak terdengar, ku perkirakan sudah memasuki waktunya imsak. Kurang dari sebulan ini aku terbiasa tertidur seusai shubuh dan tadarus. Sungguh itu sangat merusak jadwal aktifitasku yang lain. Tapi entahlah kali ini sudah terpejam mata namun tak bisa lenyap dalam mimpi.

Jam 6 sekian. Aku masih belum bisa tertidur. Dan waktu pun masih juga belum berkedip, sedang aku sudah terlamunkan penyesalan dihari lalu. Hari dimana ibu bilang jika ingin aku menjadi seorang dokter, hari dimana bapak tersenyum untuk menawarkan aku mengikuti beasiswa lain, hari dimana nenek masih tak bisa melepas aku untuk kedua kalinya, hari dimana tak bisa berkelana ke angkasa dimalam hari bareng adek adeku, hari dimana … siapalah yang menyadari, air mataku tumpah seketika. Melihat keheningan didalam kereta yang hanya dengan beberapa suara nafas kelelahan, ku biarkan air mengalir didua pipiku. Namun hati hanya bisa diam. Memori lalu lebih meratuiku. Dan tangan mulai tergerakkan untuk menghapus. Tak kuat. Berbalik kearah kabin menghapus semua. Semua ingatan itu.

Disana. Tepatnya diantara perbatasan 2 gerbong kereta api, sinar itu memancarkan lebih indah dari yang aku tau. Bukannya membantu menghapus, sinar itu lebih mencamukkan hati membuat kembali mengalir air mata ini. Sinar matahari pagi.

“Ngapain disini?” Ah sunggguh suara itu menghentikan perjalanan renunganku. Tak menjawab. Ku balikkan ketempat dudukku.  Ah bukankah tadi semua orang sedang terlelap? Bukankah dia tau jikalau ada seorang menangis, biarkan ia dalam tangisan itu hingga ia bisa menghentikannya dengan sendiri. Pikirku sepi. Terduduk. Masih belum ada repson untuk sekedar menguap. Tak ingin lebih jauh menghabiskan tisu, mencoba sebisa menguatkan hati saat itu. Sampai perjalanan terhenti pun, sungguh hati masih berkecamuk jika mengingat hari lalu.

8:35. Kereta kali ini berjalan lebih lamban dari yang aku tumpangi sebelumnya. Telatnya pun tak tanggung tanggung, 1 jam. Tak enak hati pada teman yang menjemputku distasiun. Akibat hanya 3 jam mengejamkan mata selama perjalanan, seusai ku letakkan barang, aku terpulas hingga seperti dibanguni bahwa diri ini belum shalat dzuhur.

Yah manusia selalu bisa berencana, sisanya? Sisanya terserah Allah mau bagaimana membuat kita lebih menjadi dewasa. Diperkirakan sekitar jam 6 sore keluar dari rumah mengingat perjalanan ke wisma KBRI yang lebih dari 1,5 jam. Dibilang juga apa, manusia cuma bisa berencana. Jam 7 kurang berapa menit kami baru naik metro. Tak apalah yang penting rasa penasaranku terlampui. Dia. Sosok wanita yang sering dibicarakan orang akan kepintaran dan ke aktifannya. Sungguh ku penasari sosok beliau. Dan dihari kemarin sungguh aku terasa mimpi bertemu dengan calon sukses seperti beliau, mbak Evi namanya. Aamiin.

Setelah melihat kibaran bendera merah putih itu, ku selusuri ruang dimana mereka berada. Mereka yang hampir tak ku temui lebih dari 7 bulan, mereka teman seperjuanganku. Dengan segelas air putih, takjil pun tak kebagian karna telat, shalat magrib dilaksanakan dengan sangat lebih hikmat. Ditambah saat ibu dubes Turki mengatakan, “Saya mewakili keluarga dan seluruh penduduk Indonesia minta maaf atas salah dan khilaf kami..” Bergetar hati ketika mendengar, ‘penduduk indonesia’. Ah ternyata Negara dan se isinya itu sangat berarti bagi diri ini.

Dan sungguh. Kemarin, 26 ramadhan, hari dimana untuk pertama kalinya dalam rantauanku, aku merasakan kekeluargaan Indonesia itu hadir, dimana jumlah orang Turki saat itu hanya tiga, dua, atau bahkan satu. Sungguh rasanya ingin merasakan hal yang sama dikotaku. Aah bersabarlah. InsyaAllah ditahun selanjutnya juga hadir dikotaku.

Dengungan mangkok tak sanggup ku tahan, bakso. Menu yang sangat indah bagi kami pelajar Indonesia yang merantau dinegara orang. Menu yang mungkin hanya kami santap setahun sekali, atau bahkan tidak sama sekali hingga kepulangan ke negeri pertiwi. Baksoku lengkap, lebih dari 5 pentolan, kuah yang memenuhi mangkok, mie kuning yang mekar, pangsit dengan gurihan mantap, ah kecap dan sambal pun tak lepas dari sengatanku.

Sayang, malam yang semakin larut pun menghantarkan para temen temanku untuk berpisah. Dan malam itu … Malam yang tak tergantikan kenangannya.

Beberapa cerita temanku yang membuat aku tercengang adalah mengenai sedekah. “Matematika Allah dengan kita beda. Kalau Allah semakin memberi semakin nambah rezeki kita, tapi kalau manusia semakin memberi semakin tekor.” Atau selingan kata, “Uang itu bisa dicari. Kasih aja semua yang kita punya dijalan Allah, entar PASTI baliknya berjuta kali lipat.”

Yang kita punya disini hanya teman, disaat apapun itu arti teman sangat berharga. Disaat jatuh sekalipun hanya teman yang harus setia menyemangati, sekalipun itu rival kita. Mengenai soal universitas pun, kami saling terbuka. Yang intinya teman = saudara.

Perjalanan hari kemarin hingga kini memberi kesan tersendiri. Dengan kedatanganku kesini pun aku banyak menetapkan hati, belajar mensyukuri dan berusaha menjadi lebih baik lagi. Dan walaupun detik detik bulan kecintaanku akan berakhir, sungguh aku sangat berharap tahun yang akan datang lebih sangat indah dari hari hari ini.

Gule gule ey sehri Ramazan J

Not : sketZ sekeluarga sangat menghantunkan mohon maaf atas kesalahan dan khilaf yang disengaja maupun tidak disengaja.

Salam hangat dari kota Adana

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Admin’s Collection

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s