#Edisi 21 -Salsabila- Istanbul -Peristiwa Malam

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Peristiwa Malam

Oleh Salsabila

[Istanbul]

Istanbul

Istanbul di Malam Hari

Bismillahhirrohmaanirrohiiim

Ku tuangkan segala rasa syukurku kepada Allah,Tuhanku yang ku sayang dan ku cinta, dengan segala kerendahan penuh dosa yang terus bermaksiat kepadaNya, namun Dia tetap meluncurkan dekapan rasa sayang,perhatian dan cintaNya. Sungguh Allah aku mencintaimu. Ramadhan, wahai bulan yang penuh dengan keberkahan.

Usai pulang acara agenda buka bersama sekaligus bertamasya di Tekirdag, daerah dengan ciri khas bunga matahari yang elok dan sempat pula aku bertamasya ke Edirne, bekas ibukota Ottoman dengan perbatasan dengan negara Yunani dan Bulgaria disepanjang sisi Eropa Turki, didirikannya masjid Selimiye cami yang mempunyai kisah bersejarah, karya besar dari sang arsitektur fenomenal Mimar Sinan.

Agenda ramadhan yang indah, menemani mba Evi berbuka puasa di masjid Sultan Ahmet-Blue Mosque dan salah seorang teman kami, Dhika. Ditemani pula oleh serangkain kejadian yang menemani. Bertemu dengan seorang ibu yang berasal dari negara Syiria, berusaha untuk menyadarkan hati untuk tetap bersyukur tinggal di negara yang aman dan kebutuhan tercukupi. Berusaha merasakan pilunya hati yang tersayat atas kehilangan orang yang dicintai tanpa tahu kesalahan apa yang telah diperbuat hingga harus terpaksa menebus dengan nyawa. Termenung..

Sepanjang perjalanan setelah berpamitan dengan mba Evi dan Dhika, kami akan pulang dengan menaiki tramvay dengan arah berlawanan. Mba Evi dan Dhika langsung menyebrang, sedangkan aku tetap di salah satu pemberhentian tramvay nya. aku menuju tempat duduk, kutangkap ada celah bangku yang bisa diduduki diantara himpitan seorang ibu menjelang usia tua dan seorang kakek. Oh ya ku ingat ibu Syiria itu memberikan permen segenggaman tangan, dan aku masih mempunyai 3 buah, setelah ku berikan kepada mba Evi dan Dhika. Langsung ku sodorkan permen itu kepada ibu dan kakek itu.

Rasanya bahagia sekali, kecil berbagi, namun riang di hati. Dengan senang hati mereka mau mengambilnya. “tesekkurler kizim…”(terima kasih gadisku), dengan wajah tersenyum mengembang aku ucap, “birsey degil”(bukan apa-apa). Kami membuka bungkus permen, makan permen bertiga. Tramvay jurusan mba Evi dan Dhika akhirnya tiba. Setelah selang beberapa menit akhirnya jurusan Tramvay Kabatas tempat yang ku tuju juga datang. Kakek itu langsung memberi tahuku tramvay sudah datang. “hah geldi.” Aku masuk, melihat keadaan di dalam, alhamdulillah masih ada bangku yang kosong, beda dengan perkiraanku bahwa tramvay akan penuh sesak melihat banyaknya para wisatawan dan penduduk Turki yang berkunjung di masjid Sultan Ahmet untuk berbuka puasa dengan kerabat  mereka.

Aku duduk dengan posisi bangku yang berlawanan dengan arah tramvay.  Kakek itu pun duduk di sebelahku karena kosong. Aku banyak berdzikir, agar hati ini tidak lepas dengan mengingatNya. Tatapan wajahku sendu, datar  ditambah kabar Mesir yang ikut membawaku merasakan kesedihan, namun aku merasakan tenang dengan mengingat-Nya. Selang sekitar 15 menit, Kabatas tujuan jurusanku sekaligus  pemberhentian stasiun terakhir sampai. Kakek itu berucap lagi “tesekkurler seker icin”,(terima kasih untuk permennya). Ah aku jadi tersenyum malu, karena itu bukan seberapa, namun mendapatkan ucapan terima kasih lagi.

Hpku mati, menjelang senja matahari terbenam, karena baterainya telah habis. Ah aku belum menyampaikan kabar kepada orang rumah. Aku takut ada pesan penting masuk nantinya. 4levent tempat tinggalku. Aku naik otobus. Sesampainya di 4 levent, aku melangkahkan kaki menuju rumah. Rasanya lapar sekali. Aku berdoa semoga masih ada makanan di rumah, dan teman-teman menyisakannya untukku.

Setelah tiba di depan flatku, aku melihat ada beberapa orang yang berdiri di depan pintu gerbang masuk, seorang bapak sedang berdiri di pintu gerbang itu, alhamdulillah aku bisa langsung masuk tanpa harus memencet bel dari luar. Setelah menyapanya aku langsung menaiki tangga karena rumah temanku tempatku tinggal sementara (karena sekarang kami di satukan di satu rumah) di lantai 3. Sesampainya di depan pintu aku melihat ada air minum satu galon, dan sepatu-sepatu yang biasa berjajar di luar satupun tak ada. Aku mulai cemas, aku sudah menduga bahwa mereka tak ada di rumah.

kutepis pikiran itu, aku langsung memencet bel. Satu kali tak ada tanda, 2 kali tak ada yang membukakan pintu, ketiga kali dan benar pikiran dan prasangka burukku mulai macam-macam, “mereka tega sekali, kenapa mereka tak memberi kabar? kenapa mereka tak memberi informasi sebelumnya?” Sebelum magrib pun aku selalu melihat hp, tak ada satupun pesan yang masuk dari mereka. Kenapa? kenapa? aku sudah mengatakan aku akan pulang pada hari ini juga, kenapa mereka begitu kepadaku? apakah mereka cemburu bahwa aku bisa pergi berlibur selama 6 hari, dan mereka juga mau berlibur tanpa memberi tahuku karena aku tak boleh diijinkan lagi ikut dengan mereka? Astagfirulloh. Sering ku tak mengerti ketua rumah yakni salah seorang temanku karena sikapnya yang ah, kurang jelasnya informasi. Aku tak mau mencari ribut dengannya karena seringnya kami berselih paham karena perbedaan karakteristik, kami sama cepatnya tersulut emosi. ya Allah ampuni hamba karena sifat jelek ini.

Pikiranku semakin kacau karena kesedihan peristiwa Mesir, letih dari perjalanan berjam-jam lamanya dengan membawa tas ransel yang lumayan berat berisi barang-barang keperluanku selama menginap di sana dan lapar sekali. Aku mengendalikan perasaanku, kekhawatiranku dan berusaha bersikap tenang. Aku langsung berpikir menemukan cara bagaimana mengatasi ini. Otakku langsung merespon, ah mungkin nanti minta tolong ke tetangga saja. Perasaan panikku tak bisa dicegah.

Aku langsung bingung kepada siapa aku harus bertanya, aku belum mengenal mereka, karena aku baru tingga di situ. Ku langkahkan kaki turun ke lantai 2, ada sepasang suami istri sepertinya, mereka baru saja datang. Ya mungkin kepada mereka. Namun aku masih gugup, belum memberanikan diri untuk bertanya apalagi meminta tolong. Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah mereka. Aku cemas. Ku melangkah lagi menuruni tangga menuju lantai satu. Tiba-tiba…

Seorang temizlik menghampiriku, aku menunjukkan muka yang cemas sambil menggenggam hp yang mati. Aku heran dia langsung bisa menebak masalah yang sedang melandaku. “kimse yok mu evinde?” (apakah tidak ada orang di rumah?). Allahu akbar, kenapa dia bisa tahu keadaanku? pertolonganMu seungguh dekat ya Tuhanku.  ku jawab iya.

“kalau begitu kamu menghubungi temanmu, apa kamu tidak punya pulsa?”

Aku gugup, aku menjawab baterai yok, dia tidak mengerti. Ku tunjukkan hp ku. Bahwa hp ku mati. Teyze(bibi) itu belum juga mengerti.

“kamu tahu nomor temanmu?”

“Ya, tapi ada di dalam hp, dan hp ku mati”. Teyze itu langsung megambil hp ku, mengecek dan menyalakannya. Hidup sesaat, namun mati kembali.

“kalau begitu ayo ikut ke rumahku…” alhamdulillah aku kembali bersyukur atas kebaikan Allah padaku.

Sesampainya di rumahnya, aku langsung mengeluarkan charger hp dan menyerahkannya ke teyze itu. Setelah bisa menghidupkan hp ku, teyze itu malah meminjamkan hp nya untuk ku pinjam menelepon. Setelah mencari nomor temanku. Langsung aku menekan tombol angka-angka. Aku menghubungi temanku tsb,

“Nia, ini Salsa, kamu ada dimana? Aku ada di rumah orang yang gak dikenal, hp ku mati, aku udah bilangkan hari ini aku pulang?”

“kita ada di rumah Guney abla, coba hubungi Rina, kamu ke rumahnya” dia langsung memutus pembicaraanku.

“oh yaudah” dengan nada tegas menahan amarahku.

Kembali ku menekan tombol nomor temanku yang lain, setelah tersambung…

“Rina ini kak Salsa, sekarang ada dimana?”

“Diluar kak.”

“Rina kakak ada di rumah orang yang gak dikenal, gak ada orang di rumah, kapan pulang Rina?” Dengan nadaku memohon agar aku bisa ke rumahnya.

“Duh.. hm…g tau kak.”

“kalau Asni juga lagi di luar juga?”

“iya kak, kita lagi bareng-bareng”

“oh gitu ya…”

”iya ka”

Sedih dan kecewa rasanya. Aku menahan untuk tidak menangis.

Pukul 10.21, aku mengirim pesan ke teman rumahku bahwa Rina tidak ada di rumah.

Aku menghubungi yang lain…mba Evi, kutumpahkan semuanya.. aku menangis sejadi-jadinya, kenapa mereka begitu, kenapa  mereka tidak merasa kasihan kepadaku, kenapa mereka gak peduli, kenapa mereka tidak merasakan rasanya berada di luar rumah dengan keadaan letih, malam hampir larut, seorang yabanci (asing), siapa yang ku kenal, kemana aku harus singgah untuk bermalam, aku takut, kenapa teman setanah air seperti itu?

Aku sudah mengatakan bahwa hari ini aku akan pulang, hp ku mati , sepanjang hari aku pun terus mengecek hp ku tak ada pesan sebelumnya, aku tak bisa membayangkan seandainya aku tidak bertemu dengan teyze itu, aku tak mengenal orang di situ, aku aku…hiks hiks

Aku pernah mengalami kejadian serupa saat pertama kali aku tiba di 4levent, larut malam abla mengantarkan aku ke rumah yang baru, mana mungkin aku bisa mengingat rumah baruku, pertama pindah, jalan-jalan yang ditelusuri, dengan temurunan sedikit curam, apalagi pada malam hari? Pagi aku berangkat ke kampus, aku coba-coba mengingat tanda-tanda agar pulangnya nanti aku tidak tersesat. siang hari aku pulang, aku berkeliling, terus mengitari daerah situ, aku tidak mempunyai nomor hp, aku sangat takut, aku orang asing, aku tidak mengenal siapa-siapa. Aku tersasar, mengetuk rumah yang ku kira tempat tinggal baruku, dengan bahasa turki yang sedikit sekali aku bisa, ternyata salah. Aku mengitari lagi, aku ingat itu rumahku, aku memencet bel kembali, si pemilik rumah yang sama. Berulang kali aku kembali, ke tiga, empat kalidan sama. Allah…

Akhirnya aku berpikir untuk mencari warnet, ku buka fb, ya Allah ku mohon ada yang online mahasiswa di Istanbul dan aku bisa meminta tolong kepadanya. Aku langsung melihat, ka Adn. Aku langsung bertanya, “kak tolong hubungi , aku nyasar kak, aku ga tahu rumahku, aku lupa ,aku gak ada hp, aku gak punya nomor hp.” Akhirnya setelah itu alhammdulillah sekali temanku bisa langsung dihubungi aku langsung dimiinta menunggu di toko penjual ikan. Iya aku tahu tempat itu. Temanku datang aku langsung menangis aku takut.

***

Jam telah menunjukkan hampir 10 lewat 18 menit, teyze itu bilang jangan menangis, jangan menangis. Teyze itu mendengar aku menelepon dengan menangis sesenggukan. Dia bertanya temanku tidak memberi kabar sebelumnya? Ku jawab iya. ckck.. jawab teyze itu dengan wajah prihatinnya. Kamu pernah melihat saya bukan? Teyze itu bertanya bahwa ia mengenalku.

Aku menjawab dengan wajah datar “iya…” aku ingat aku pernah melihatnya, tapi tidak tahu di mana..

Aku menghubungi teman lainnya..

“Sisna… hiks hiks..”

“iya iya ka, tenang-tenang ka, jangan nangis.”

“ada dimana?”

“di luar ka…”

Hiks hiks

“ya tapi aku bakal pulang kak..”

“Sisna kaka ke sana ya…”

“ya kak..”

“tapi kakak gak tau rumah kamu Sis, lupa..”

“ya nanti aku tunggu di durak (halte)”

“tapi gimana mau ngasih kabar? kakak cuma bisa pake whatsapp, aktif gak Sis whatsappnya?”

“gak kak..”

“iya tapi aku bakal tunggu di durak ko..”

“sekarang Sis..”

“iya .. sekarang..”

“kakak berangkat sekarang..”

Teyze itu menghampiri, bertanya aku sudah makan atau belum, aku menolak aku tidak mau merepotkan, teyze itu memaksa, “tidak, saya akan beri kamu jagung rebus, kamu mau ya?”

“baik kalau begitu..”

Jam hampir menunjukkan pukul 23:00 malam, aku berpamitan ingin pergi, teyze itu meminta agar aku bermalam di rumahnya karena sudah terlambat, malam semakin larut, aku menolak.

“dimana rumah temanmu?”

“Besiktas”

“kamu tahu dimana naik busnya kan?” Tanya suami teyze itu..

“iya saya tahu..”

Aku cepat-cepat membereskan barang-barangku, aku takut pukul 12 malam bus tidak ada. Suami teyze itu bilang kau bisa kembali ke sini jika tidak menemukan temanmu.

Teyze itu bertanya apakah aku ada uang? Aku jawab ada, bagaimana aku tega meminta uang dengannya dengan keadaan beliau yang kurang mampu.

Saat berpamitan untuk pergi,Teyze itu bilang kalau kau tidak menemukan rumah temanmu kau bisa datang kembali ke sini.

Sedikit berjalan, aku langsung kembali, aku tak punya no hp nya, aku takut ada kejadian apa-apa di luar. Aku langsung bertanya berapa no hp nya, teyze itu memencet nomor-nomor hpnya. Langsung aku save.

Sesampainya di Besiktas…

Alhamdulillah, adik kelasku sedang duduk di situ menandakan ia menungguku datang.

Ia langsung menghibur diriku, tanpa menanyakan apa yang terjadi…

“Sis, apa hidup di negeri orang mengurus sendiri ya, tidak perduli masing-masing, kakak tahu kakak gak boleh manja, cengeng, apalagi meminta mereka memperdulikan kakak.”

Apa aku kurang perhatian dengan mereka, kurang baik pada mereka??

Pukul 24:00 Turki

Aku melihat hpku kembali, terlihat ada 2 misscall dari adik kelasku, Rina dan 1 buah pesan yang masuk.

“kak aku udah di rumah, jadi ke rumah aku gak?” Pesan diterima pukul 11.01.

Aku meminta maaf baru melihat hp ku, dan mengucapkan terima kasih telah menawarkanku datang ke rumahnya, tapi aku telah berada di Besiktas.

Pukul 10.55 temanku rupanya telah membalas pesan bahwa mereka ada di jalan dan tidak tahu jam berapa mereka akan sampai, aku diminta ke rumah teman Turkiku dulu, Ozlem.

24.07 aku baru membalas karena selama dijalan hp ku simpan di tas, bahwa aku sudah di Besiktas.

Setelah berbincang-bincang tengah larut malam, aku diberi nasehat dan masukan oleh adik kelasku aku langsung menyadari kesalahanku. Ya Allah ampuni hamba…

***

Pagi hari aku terbangun..

Aku mengingat-ngingat siapa teyze itu? tiba-tiba sebuah pertemuan mengingatkanku..

“boleh saya masuk?, saya ingin membersihkan kamar ini”

“iya,”

“kamu berasal dari mana?”

“indonesia”

“kamu sekolah di sini?”

“iya”

“dimana?”

“istanbul teknikal universitesi”

“jurusan apa?”

“teknik matematika”

Teyze itu diam, tertegun.

Allahu Akbar aku langsung terperenjat, aku mengingatnya aku mengingatnya, aku yakin aku bertemu dengannya di asrama, tempat menetapku sementara. Sejak liburan memang kami berpindah-pindah tempat, karena orang-orang Turki, teman-teman kami sesama mahasiswa dan satu rumah pergi berlibur, pulang ke ke daerahnyanya masing-masing, sehingga kami, orang-orang asing dijadikan satu tempat tinggal.

Tapi, bagaimana bisa aku bisa bertemu dengannya kembali di tempat yang berbeda, daerah yang sangat jauh dengan jarak rumah temanku dan asrama? Jarak asrama dari rumah terhitung dari stasiun metro 4levent-haciosman (paling ujung) adalah 11 menit dengan kecepatan kereta listrik di bawah tanah ditambah jarak sekitar 500 meter dari stasiun Haciosman menuju asrama.

Itupun telah 2 bulan yang lalu, bulan Juni aku bertemu dengannya, masya Allah beliau masih mengingatku, hanya 2-3 hari aku berjumpa dengannya, di saat aku sendirian di kamar.

Beliau juga membersihkan flat dimana temanku juga tinggal? Allah itulah kuasaMu, melalui teyze itu Engkau menolongku disaat harapan temanku bisa memahami kondisi kesulitan yangmenimpa padaku.

Berharap kepada manusia, maka kekecewaan yang ku dapat, tapi tidak denganMu, Engkau selalu mendengarkan keluh kesahku, menenangkan diriku saat ku tumpahkan segala rasa lelahku karena kehidupan dunia ini. Pertolongan-Mu yang tak bisa kumasukkan logika nalar berpikirku yang sempit ini. Sungguh Allah aku mencintai-Mu.

Terimalah cintaku ini dari seorang hamba yang hina ini.

***

Siang hari aku pulang ke rumah temanku, setelah menanyakan kejelasannya, kami sempat bertengkar melalui pesan whatsapp, dengan bismillah aku menjawab dengan kepala dingin, lapang dada dan mengakui kesalahanku karena aku tidak memberi kabar jam berapa aku pulang,dia sebagai ketua rumah sibuk dengan berbagai urusan, diperintahkan tidak memberi tahu undangan berbuka puasa bersama karena semua tidak undang, mungkin dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan dengan yang lain, namun masih dalam kekesalanku kunci rumah hanya satu buah,dia yang memegang, jikalau semua penghuni rumah ikut bersamanya hingga larut malam,setidaknya dia memberi kabar padaku mereka akan pulang malam, hingga aku berusaha tidak pulang telat atau bisa singgah ke tempat lain untuk menunggu mereka atau bahkan aku akan menyusul mereka. Aku meminta maaf dan akhirnya temanku meminta maaf juga karena belum bisa menjadi ketua rumah yang diharapkan. Alhamdulillah hubungan pertemanan kami tidak sampai retak.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Hak Cipta : Tim Penakluk Sejarah LKS Mit-ers
Sumber Foto : Google.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s