#Edisi 23 Dion E. Ginanto -Sahabat Seberang Negeri -Pengalamanku Berpuasa di USA

-Pesona Kabar Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Edisi Kisah Sahabat LKS Mit Seberang Negeri

PENGALAMANKU BERPUASA DI USA

Oleh: Dion E. Ginanto

[Sahabat LKS Mit Master Student, USA]

USA

 Solat Tahajud bersama sebagai rangkain Qiyamullail di Islamic Center, East Lansing

Halo Sobat semuanya… Assalamualaiku, ane mau bercerita sedikit, boleh kan? Mudah2 teman-teman semua berkenan membaca, he..he..he.. (maksa banget sih).

Jam digital di layar laptopku menunjukkan pukul 01:11 dini hari. Tetapi pesona langit yang mengiriku sepanjang aku mengayuh sepeda selepas pulang tarawehmalamini, membuat mata ini belum ingin memejam. Tak terasa Ramadhan akan segera beralalu, dalam kalendar jadwal berbuka dan waktu sholat yang tertempel manis di depan meja belajarku menunjukkan bahwa malam ini adalah malam ke 27. Malam ganjil, yang mungkin saja Alloh dan para malaikatNya malamini turun ke bumi untuk menyaksikan hamba-hambaNya yang bersujud, bertasyakur atau berqiyam. Dan tentunya Alloh akan mengabulkan do’a hamba-hambaNya, serta menjadikan ibadahnya laksana beribadah selama seribu bulan. Ganjaran yang luar biasa, dan hanya bisa dinikmati bagi mereka yang beriman.

Kelihatannya, prosesor yang ada di kepalku memberikan instruksi untuk sekedar menuangkan cerita, sepenggal atau duapenggal kisah yang mungkin bisa menjadikan motivasi bagi siapapun yang membacanya. Oleh karenanya, kuputuskan untuk bermesraan dengan laptop setiaku sejenak demi menorehkan beberapa kalimat tentang Ramadhan di Amerika. Dengan harapan, semoga membirkan motivasi bagi mereka yang membaca, insyaAlloh.

Tentu ada beberapa teman yang bertanya dan penasaran, bagaiama sih kehidupan umat muslim di negara yang mengaku sebagai polisi dunia ini. Juga mungkin teman ada yang kepingin tahu bagaimana berpuasa di negeri yang mengagung-agungkan domokrasi ini. Atau, minimal pingin tahu sedikit ada enggak orang yang berpuasa di Amerika, he..he..he..

Baiklah, saya akan sedikit bercerita,… (jreng..jreng..jreng… pada zaman dahulu kala.. ha..ha..ha… *pak Raden MODE ON)

Pengalaman Ramadhan ane kali ini hanya ane fokuskan pada negara bagian Michigan, wabil khsuus di area sekitaran East Lansing, di mana kampus megah Michigan State University (MSU) berada. Kali ini ane akan berbagi seputar lamanya berpuasa, bagaimana ane berpuasa di sini, dan bagaimana Muslim di East Lansing menghidupkan Ramadhan.

Oke sob, sudah siap??

East Lansing tempat ane tinggal selama satu tahun ini telah berhasil memberikan warna tersendiri dalam lembaran buku harian kehidupan ane. Selain menyimpan pesona damai dan ketenangan, East Lansing merupakan tempat yang nyaman untuk menuntut Ilmu sambil memperdalam agama. Ane termasuk satu dari sekian mahasiswa Muslim yang beruntung, karna apartemen tempat ane ngekost, berjarak lumayan dekat dengan Islamic Center (5 menit bersepeda). Sehinga di bulan puasa yang harus dijalani dengan sangat panjaaaaangggg ini, bisa dijalani dengan lumayan khusuk. Mengapa ane mengetikkata ‘panjang’ terkesan lebay? Ya karena kalau dibanding dengan berpuasa di Indonesia, berpuasa di sini memang sedikit lebih menantang.

Bayangin aja sobat, di sini pertama kali ane berpuasa itu waktu Imsaknya adalah pukul 04: 15 terus, waktu berbukanya itu pukul 21:18, it means kita-kita di sini berpuasa 17 jam.. ha.ha.ha.. lumayan ya? Yang lebih challengingnya lagi, bulan puasa tahun ini jatuh pas di musim panas, sehingga sang raja siang seolah pingin memberikan aroma terapi tersendiri pada mereka yang sedang diuji menahan haus dan lapar.

Untuk mempersiapkan puasa yang 17 jam ini, ane sengaja telah mempersiapkannya jauh-jauh hari dengan cara melatih berpuasa sunah senin kamis, dan berolah raga bersepeda dan badminton, sehingga Alhamdulillah sampai malam ke-27 ini ane masih diberi kesehatan yang sempurna oleh Allah SWT. Kalau boleh berbagi nih ya sob, kalau pas matahari itu lagi demen bersinar, itu panasnya minta ampun, menurut saya yang dari Jambi (Kota terpanas nomor 3 se-Indonesia, kalau gak salah ya), panas di East Lansing ini, jauh melebihi panasnya Jambi. Perbedaannya adalah, kalau di Jambi angin yang berhembus itu disertai dengan aroma kelembaban yang sedikit menyegarkan, tetapi tidak tahu kenapa, di East Lansing itu rasanya panasnya pengab, dan kering. So, kalau keluar rumah siang-siang, tenggorokan berasa sangat kering.

Nah untuk mensiasati ini, ane mengubah pola hidup dan pola tidur. Hmmmm penasaran kan….

Begini ceritanya sob…. Dikarenakan matahari itu baru menghilang sekitar setengah sepuluh malam, maka ini berimbas pada jadwal solat isya dan solat taraweh. Solat Isya baru dimulai pada pukul 23:00, dan tarawihnya dimulai sekitar pukul 23:30, keren kann?? Walhasil ane baru sampe di rumah itu jam 1 malam kawan. Terus kalau harus tidur dan bangun lagi pukul 3 kan tanggung tuh?Maka, ane tidak tidur hingga subuh. Sebagai gantinya ane tidur sehabis solat subuh hingga pukul 12 siang, terus aktifitas belajar dan ngampus dilakukan siang hingga sore hari.

Taraweh di masjid sini, memang naunsanya istimewa sobat, mengapa? Karena bacaan ayat Quran setelah surah Al-Fatikhah, memang benar-benar di mulai dari Surat Al-Baqarah. Jadi, sistemnya setiap satu rakaat, akan dibacakan satu halaman Al-Quran, sehingga ditargetkan pada malam terakhir ramadhan jamaah solat berhasil mengkhatamkan Al-Quran dari solat mereka (subuh, Isya, Tarawih dan Tahajud berjamaah). Imam kami ada dua, mereka semua hafal Al-Quran., tuh kan… heran ya… ? Ane juga juga heran, ternyata di bumi tempat dilahirkannya penjagal kaum Muslimin di Afganistan, Irak, Pakistan, dan negara Islam lainnya, masih terdapat hafiz-hafiz kualitas top.

Bacaan merdu mereka saat menjadi imam, membuat jamaah tidak bosan meski harus berdiri bermenit-menit lamanya. Nah yang jadi point pentingnya nih, dan yang perlu dicatat ama temen-temen ane untuk dijadikan bahwan perbandingan; bahwa jamaah solat tarawih di sini penyusutannya tidak sesignifikan di Indonesia. Kalau di Indonesia, kan di 3 hari pertama itu Masjid seolah tak kuasa memberikan spot untuk solat, tapi setelah malam ke-4, ke-5 dan seterunya, hanya ada beberapa makmum yang setia bertahan menghidupkan masjid, he…he..he… Tapi di sini berbeda sob, mereka masih bertahan hingga malam ke 27, Masjid tetep aje fenuh… Alahamdulillah.

Tadi kita berbicara tentang waktu puasa dan tarawih, sekarang ane ingin bercerita tentang berbuka, sahur dan qiyamulllail. Di East Laning, pengurus masjid menyediakan buka puasa gratis bagi mahasiswa bujangan. Ha..ha..ha.. berkah mahasiswa yang belum laku, wkwkwwkkwk. Ane termasuk dari sekiaan puluh mahasiswa di sini, yang selalu setia duduk manis menunggu azan magrib di masjid. Menu yang disedikaan lumayan oke punya deh, selain HALAL, bergizi, berkahnya isnyaAlloh terjamin. Intinya, berbuka di Masjid, selain keuntungan yang ane sebutkan tadi, masih ada keuntungan lainnya, yaitu bisa menambah sahabat dari brother-brother dari penjuru dunia yang kebetulan bersekolah di MSU. Tapi niat an eke masjid bukan untuk sekedar mencarai makan gratis lo ya…, ane selalu meluruskan niat bahwa ke masjid untuk solat maghrib berjamaah, tentang menu buka gratis itu bonus.. he..he..he..

Lalu bagaimana dengan sahur?

20 hari pertama ane memasak sendiri sob…  tapi di sepuluh malam terakhir, kembali pihak pengurus Masjid menyediakan sahur gratis bagi mereka yang berqiyamullail di Masjid. Nah, ane sempat berdecak kagum bahwa jamaah solat tahajud yang berjamaah di Masjid itu jumlahnya ¾ dari jamaah solat tarawih. Bayangin sob… dengan jumlah ini, apa gak benar-benar hidup nih masjid??? Nah, ibadah yang beginian ini nih, yang perlu dicontoh ama kita-kita di Indonesia. Betapa mereka saling berlomba-lomba dalam beribadah di hadapan Allah Azza Waazzalla. Dan yang mendatangi masjid bukan hanya orang-orang tua saja, tapi para anak-anak muda yang mempunyi warna kulit bervariasi, dan mempunyai mentalitas tinggi semua ada. Subhanalloh… keren ya sob?

Nah, gimana, apa pengalaman berpuasa ane mirip dengan puasa antum semua? Kalau dari waktu, isnyaAlloh berbeda ya, tapi ane penasaran yang tahajud berjamaah yang berjumlah ¾ dari jamaah taraweh yang memenuhi masjid itu apa ada juga ya di kampung-kampung di Indonesia? Ana yakin ada sih, tapi mungkin tidak banyak… Ayo teman-teman… semoga dari ceritaku ini bisa mengisnpirasi teman-teman semua untuk lebih semangat lagi menghidupkan Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini (hikkks sedihhhhh, ditinggal Ramadhan…)

Udah dulu ya teman-teman, ane akan ke Masjid nih, sebentar lagi Qiyamullail dimulai. Oh ya sebelum ditutup, ane Dion Ginanto, mengucapakan selamat Hari Raya Idul Firti, Mohon Maaf Lahir dan Batin…..

Wassalamualaikum Wr.Wb

East Lansing, 3 Agustus 2013

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
LKS Mit-ers [miturki.wordpress.com]

Sumber Foto : Penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s