#Edisi 06 Samsun -Hisham Bin Tang- Yang pertama Ramadhan

-Pesona Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah-

Ngebaca tulisan dari salah satu tim penulis “Penakluk sejarah” kali ini bener-bener ngerasa ‪#‎uhuks‬ penulis bener-bener ngebawa kita hidup di masa imam-imam besar Islam…

Yang pertama Ramadhan
By: Hisham Bin Tang

IMG_0015

Kabar Ramadhan dari Turkey Edisi #6 kali ini datang dari salah satu Tim penulis yang tinggal di daerah Pantai Utara turkey

Samsun…

Kota sempit memanjang mengikuti garis pantai karadeniz. Sebagaimana kota-kota lain di Turki, hanya dalam jarak puluhan atau ratusan meter dari pantai langsung bertemu tebing-tebing dan bukit-bukit menjulang. Berbeda jauh dengan kota Bantul yg datar dari pantai hingga masuk pusat kota jogja. Nuansa berbeda juga kutemui pada karakter karadeniz yang tenang, tak berombak, 180 derajat jika dibandingkan dengan pantai parangtritis yang bergelombang, memukau namun mengancam. Karena tenangnya arus laut hitam ini lah, dibangun taman-taman hijau di pinggiran pantai sepanjang kota.

Jika bagi teman-teman yang lain, kali ini adalah ramadhan yang pertama semenjak tinggal di turki, tidak demikian dengan saya. Bulan mubarok kali ini adalah yang kedua kalinya di bumi Anatolia ini. Jadi, tahun lalu, sedikit banyak saya telah mencicipi aroma dan menikmati nuansa penuh berkahnya ramadhan di Turki. Ramadhan tahun lalu adalah yang pertama, tapi tidak cuma itu, bulan yang pertama kalinya saya menginjakkan kaki di kota yang bekal jadi tempat tinggal ini jg adalah bulan ramadhan, menariknya lagi, waktu itu adalalah hari pertama ramadhan. Keren ya.

Ya, setelah safari dari Istanbul 2 hari, lalu mampir ke bursa 1 hari, kemudian rehat sjenak 1 malam di ankara, tepat malam 1 ramadhan, ba’da maghrib bertolak dari ibu kota Türkiye Cümhuriyeti menuju ke arah utara, kota di tepi pantai karadeniz, samsun. Ya, malam itu terpaksa meninggalkan tarawih pertama. Tak terasa di perjalanan, karena memang tidak sadarkan diri, terlelap oleh hawa malam, ditambah suasana kanan-kiri jalanan yg membosankan, maka tidurlah sampai tujuan. Pukul 3 pagi. Dengan wajah tak karuan, turun dari mobil, kami langsung digiring menuju yemekhane, terang saja, kami salting, calon teman-teman kami telah siap di kursi meja makan masing-masing. Untungnya, yemekhanemiz dilengkapi wastafel, hingga memudahkan kami ‘mendandani’ raut muka kami agar tidak mengganggu nafsu sahur warga asrama. Ramadhan pertama, malam ramadhan pertama, rumah baru, teman baru, ‘orang tua’ baru dan detik itu dtambah menu sahur yang juga baru. Mantap!

Seumur-umur baru sekali itu sahurku dihidangi madu, zaitun, peynir, roti, reçel, dan bubur oreng yang akhirnya kita mengenalnya dg ‘menemen’. Lalu kami ber-5 saling menatap, malu-malu, bingung, dahi berkerut bareng, mugkin di pikiran kami juga sama.. ‘pilav yok mu?’ .. plis.. jangan katakan tidak ada nasi. Oh, benar, memang tidak ada. Tapi apa mau dikata, sejak pertama kali pamitan dengan orang tua dari depan pintu rumah, tekad udah digenggaman, hadapi, jalani dan terus melangkah. Apa lagi hanya menu makanan. Dan benar saja, justeru sekarang pun jadi berfikir, “apa enaknya sih sarapan atau sahur pake nasi.” Sahur subuh itu pun terlalui juga.

Usai sahur, seperti biasa, persiapan solat subuh. Lalu seharian dihabiskan dengan istirahat, karena memang sebagai pendatang baru, belum dibebani jadwal-jadwal ngaji seperti teman-teman lainnya. Dalam hari-hari ramadhan tahun kemaren itu pernah suatu subuh dan ketika itu masih pada hari awal-awal ramadhan tentunya, teman kami diminta menjadi imam subuh. Dia anak pesantren asal Tasikmalaya. Bisa ditebak apa yang terjadi, saat imam ini qunut sebagian besar jamaah orang Turki menuju sujud yah, beginilah jika kejumudan dalam fikih tak diimbangi dengan pengetahuan siroh.

Kontan saja teman saya usai solat dikomen habis-habisan. Sebenarnya, kedua pihak tidak ada yg salah sih, akan tetapi kurang lengkapnya pengetahuan menjadi salah paham. Saat kejadian itu pikiranku langsung melayang ke sebuah cerita. Kisah yang memang kupersiapkan menjadi kuda-kuda semenjak ada niat tolabul ilmi di bumi hanafiyah ini. Kisah sahih dipopulerkan oleh imam hadis Adz Dzahabi dalam magnum opusnya, ‘siyar ‘alam an nubala’, dan aku menikmatinya dalam tulisan indah nan obyektif ala salim a fillah, ustad muda tetanggaku se-jogja di Jalan Cinta Para Pejuang atau Dalam Dekapan Ukhuwah.

Imam syafii -imam mazhabnya kalangan pesantren indonesia- ketika berziarah ke makam imam abu hanifah di baghdad, suatu hari beliau diminta menjadi imam subuh di masjid dekat makam itu. Beliau pun bersedia. Namun dalam sholatnya Imam syafii tidak membaca qunut sebagaimana yang sudah jadi ijtihad beliau. Ya jamaah pun usai solat mempertanyakan hal itu pada sang imam. Dan jawaban inilah yg memukau diriku, “ini adalah makam imamnya para fukaha, bapak fikih kita dan sebagai penghormatan atas beliau saya tidak berqunut, sebagaimana beliau juga tidak melakukannya” kurang lebih begitu jawab imam dan kisah ini saya ceritakan pada teman-teman, hingga akhirnya sampai saat ini saya dan teman-teman pun tidak berqunut saat mendapat amanah imam subuh.

Mungkin ada pertanyaan “loh, ini kan turki, bukan irak, tak ada makam imam abu hanifah atau Imam yusuf atau Imam muhammad, 2 murid utama imam mengapa disamakan dg baghdad?” Hem Turki. Sekarang ini, negara inilah pelestari utama mazhab hanafi dan dari dinasti selçuklalu Osman gazi, Al fatih sampai Erdogan, bangsa Turki dengan mazhab Hanafi yang saling memuliakan. Demikianlah…indahnya Islam.

Tulisan disusun oleh Tim “Penakluk sejarah”
Foto : Keindahan pantai Samsun, sumber google.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s