#Edisi 04 Izmir – Qurriyah Ika Finasti – Rindu Petasan, Rindu Ramadhan di Tanah Air

Rindu Petasan, Rindu Ramadhan di Tanah Air

izmir_clock_tower

Oleh : Qurriyah Ika Finasti (Kontributor Izmir)

-Pesona Ramadahan dari Turkey-
Catatan Sang -Penakluk Sejarah

Kabar Ramadhan dari Turkey Edisi #4 kali ini datang dari salah satu Tim penulis yang tinggal di kota terbesar ketiga Turki dengan iklim mediterania yang khas. Keindahan pantai Izmir adalah wajah yang menyimpan keajaiban tersendiri bagi kota penyimpan Clock Tower (Saat Kulesi). Selamat membaca..

Bulan Ramadhan tahun ini adalah bulan Ramadhan pertama saya di luar Indonesia. Sengaja saya tidak menyebutkan ‘bulan Ramadhan pertama saya jauh dari keluarga’ karena sebelumnya saya sudah mengalami pengalaman Ramadhan jauh dari keluarga ketika saya kuliah di luar kota. Kata ‘jauh’ di sini bisa jadi relatif memang karena sama-sama jauh dari keluarga, saat itu ke-jauh-an yang ada secara  hitungan matematis tidak bisa dibandingkan dengan ‘jauh’ yang saya rasakan sekarang.

Menuntut ilmu ribuan milnya dari tanah air, di sebuah negara dengan kultur dan iklim yang sangat berbeda, sebenarnya membuat saya penasaran dengan suasana Ramadhan di negeri ini. Di sebuah negeri yang pernah menjadi simbol kejayaan Islam dan secara de jure mayoritas penduduknya Muslim. Jujur, harapan bahwa suasana Ramadhan di sini sangat hidup pernah muncul sebelum saya sampai di sini.

Maka sampailah saya di bulan Ramadhan. Ah, setelah melihat sendiri kenyataan yang terjadi di sini, saya semakin merindukan Indonesia. Saya rindu suasana Ramadhan di Indonesia. Sebenarnya, saya sudah merendahkan ekspektasi saya terhadap hidupnya suasana Ramadhan di sini begitu saya mendapati kenyataan bahwa Muslim di sini sehari-harinya pun jarang beribadah.

Pagi ini ketika saya akan kembali dari masjid di zemin kat menuju kamar saya yang berada di lantai 2, saya berhenti sejenak di dekat jendela yang terbuka. Langit masih gelap dan ada sedikit angin yang masuk. Tiba-tiba saya merasa nyesek. Buru-buru saya tarik napas panjang.

Biasanya suasana Ramadhan di Indonesia dihidupkan dengan orang-orang yang berbondong-bondong ke masjid saat tarawih, suara bacaan Al Quran ketika tadarus, anak-anak kecil dan remaja yang membangunkan dan mengingatkan untuk sahur, dan satu lagi, petasan. Semua itu sangat khas di bulan Ramadhan, hal-hal yang menghidupkan Ramadhan di Indonesia. Saya tiba-tiba merindukan itu semua, bahkan saya merindukan suara petasan yang biasanya ketika saya berada di Indonesia hanya membuat saya  menggerutu berkepanjangan.

Namun, ketika pagi ini saya bangun tidur, saya sedikit berpikir dan akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Ramadhan itu bisa hidup jika kita bisa menghidupkannya. Setidaknya bagi saya sendiri saya akan berusaha menghidupkan Ramadhan kali ini (meskipun tentu saja tanpa petasan). In syaa Allaah teman-teman lain yang berada di Turki pun mampu untuk menghidupkan Ramadhan ini. Bukan begitu, teman-teman? =)

Size Ramazan mübarek olsun diliyorum.

One thought on “#Edisi 04 Izmir – Qurriyah Ika Finasti – Rindu Petasan, Rindu Ramadhan di Tanah Air

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s