Fatimah Azzahra

PenjuaL Simit & Koin Lira

Oleh: Fatimah Azzahra

Hazirlik Ogrenci TOMER Ankara Universitesi

Bursa Subesi 2012-2013

DAUNAkhir musim gugur di kota ini menyisakan beberapa pohon dengan daun kuning melayu, sisanya adalah batang merangas ditinggal hijau daun. Kabut dari puncak gunung Uludag turun ke kaki pemukiman tak terkecuali asrama kami, Orhangazi Yurdu, Yildirim Bursa. Kegiatan pagi adalah hiruk pikuk rutinitas yang malas berotasi membeku bersama kabut. Kantin penuh dengan mahasiswa asing dan mahasiswa penghuni asrama, sarapan.

Sarapan kami berjatah 2,2 lira, setara 12 ribu di Indonesia. Itu sudah lebih dari cukup bagi saya, 2 potong roti dengan 1 selai madu, telur  serta 1 kupon teh atau air botol 500 ml, atau kadang kala saya sarapan dengan semangkuk corba (sejenis sup Turki), seperempat roti, dan sebutir telur. Kadangkala, roti atau telur berlebih pindah ke kotak makan ungu saya. Lebih dari cukup untuk mengganjal perut ketika istirahat di kelas.

Hiruk pikuk lainnya adalah perjalanan naik dolmus (minibus) dari asrama ke tempat TOMER. Hari ini (dan untuk kesekian kalinya) saya melihat penjual simit masih sabar berdiri di depan gerbang asrama. Simit adalah sejenis roti gandum kasar berbentuk cincin sempurna dengan taburan sejenis wijen Turki, biasa dihargai 50 kurus atau setengah lira, setara dengan 2500 IDR. Beberapa penjual menawarkan paket murah 1 TL maka 3 simit siap dibungkus. Ini sarapan paling umum bagi masyarakat Turki terutama yang sibuk mengejar metro dengan jawal ketat lainnya.

Bapak penjual simit yang bertubuh tambun itu terakhir kali saya lihat di seberang kaca minibus kemarin menghela napas panjang karena simit-nya sepi penjual, lalu menutup susunan simit dengan lap putih, merapikan meja saji lipatnya dan memanggulnya di atas kepala. Simit yang utuh belum berganti koin-koin lira.

SIMIT2Pagi ini, ketika udara Bursa menggigit dingin, saya melihat kerumunan lalu lalang mahasiswa yang keluar dari asrama tanpa seorang pun menghampiri. Saya benar-benar penuh dengan sarapan roti pagi ini dan lira di kantong jaket menipis deras; sebelum jadwal beasiswa turun. Jadi saya memutuskan untuk tidak melipir membeli simit. Kabut dingin mengelabui mata, rasanya sulit membedakan hawa dingin pagi dengan kesedihan di hati ini. Yang membayang ketika melihat Bapak penjual simit adalah keluarga di rumah. Jika saya disini bahagia, perut penuh dengan sarapan pagi, bahagiakah mereka disana? Pagi ini, kenyangkah perut adik-adik saya sebelum berangkat sekolah?

Napas berembun tipis, hujan berjingkat-jingkat turun ke tanah, mata saya basah.

Cumartesi, 3 Kasim 2012

Yildirim, Bursa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s