Nafiatul Ummahati

KEEP MOVİNG

 

“Kenapa jauh-jauh kuliah di luar negeri, kayak di İndonesia gak ada kampus yang bagus aja.”— omongan orang kebanyakan

“Anak cewek kok kuliah jauh-jauh, ntar juga ujung-ujungnya cuma di dapur.”— omongan para tetua

“Ngapain kuliah di luar negeri? Mau sambilan jadi TKW ya?”— omongan orang ketika bertemu di bandara

Dan masih banyak lagi ungkapan sejenis lainnya yang keluar dari mulut orang kebanyakan. Bukan, kawan, bukannya Aku merasa sinis pada perkataan mereka-mereka. Justru Aku amat berterimakasih kepada mereka yang karena perkataanya itulah semangatku untuk menimba ilmu di luar negeri semakin membara.

Berawal dari coba-coba berhadiah dan di sinilah Aku sekarang, Turki. Sebuah negara yang menjadi saksi bisu kejayaan islam zaman dulu. Sebuah negara unik di mana Asia dan Eropa dihubungkan hanya dengan sebuah jembatan, Jembatan Bosphorus namanya.  Sebuah negara kecil seukuran Pulau Jawa yang mampu mengguncang dunia dengan keberaniannya. Negara ini dengan lantang menyerukan pembebasan Pelestina dan mengutuk perbuatan İsrael.  Bukan hanya omdo alias omong doang, negara ini melanjutkannya dengan tindakan yang nyata, salah satunya dengan memfasilitasi pengiriman bantuan untuk Palestina melalui jalur laut yang kita kenal sebagai Mavi Marmara pada tahun 2010 silam, di mana semua aktivis Turki yang berjumlah tujuh orang meninggal di dalamnya. “Kecil-kecil cabe rawit,” yah,  ungkapan itu  sangatlah cocok untuk negara ini.

Berat memang meninggalkan tanah air dan meninggalkan orang-orang di dalamnya. Dengan basmalah Aku mencoba untuk memulai perjalanan panjang yang Aku tahu ke depannya pastilah tak akan mudah. Tanpa keluarga, sanak saudara, teman, aah, tak sanggup rasanya hidup tanpa mereka.

Terlahir dengan memiliki dua orang kakak perempuan, cukup membuatku betah bermalas-malasan. “Ah, kan ada kakak, ntar pastilah dia yang ngerjain,” kalimat itulah yang sudah terpatri kuat di otakku. Alhasil, bimsalabimabrakadabra, masak airpun gosong (ejekan yang selalu keluar dari mulut teman-temanku, hehe). Karena mindset yang salah itulah ketika ada acara masak bersama teman-teman di sini, Aku selalu kebagian jatah sebagai seksi cuci piring. Yah, itulah Aku. Ke dapur hanya untuk comot-comot makanan yang sedang digoreng ibu atau kakak, membersihkan rumah dengan muka tidak ikhlas, ketika ibu menyuruh untuk membeli sesuatupun hanya Aku iyaiyakan tanpa tindakan yang nyata. Tak terhitung berapa kali sudah ibu atau kakak mengelus dada atas sikap malasku.

Dan Allah pun membalas semua perbuatanku di sini. Ketika seseorang jauh dari keluarganya, seseorang tersebut ditempatkan dalam dua keadaan. Keadaan pertama adalah, orang tersebut menjadi liar dan lost control karena tahu tidak ada keluarga yang mengawasinya. Keadaan kedua adalah, seseorang itu menjadi semakin dekat dengan Rabbnya karena dia tahu hanya dengan berdoalah rindu kepada orang terdekat dapat tersampaikan, karena dia tahu dengan ketiadaan keluarga maupun sanak saudara, hanya Allah lah yang dia punya, dan hanya Allah lah, dzat yang mampu menyelesaikan masalah dengan rencana indahnya yang tak pernah kita duga. Dan, Aku memilih keadaan yang kedua tentunya.

BerHİJRAH, adalah kata yang tepat kiranya untuk menjawab pertanyaan mereka-mereka kenapa Aku -yang notabene seorang perempuan- memutuskan untuk kuliah jauh dari tanah air. Hijrah, dalam segi bahasa berarti “berpindah”, bukan hanya perjalanan panjang dari Mekkah ke Madinah yang dilakukan Rasullullah dan para sahabatnya, lebih dari itu, bila ditelaah lebih mendalam hijrah sendiri memiliki makna yang sangat luas. Hijrah dari suatu tempat ke tempat lain, hijrah dari kondisi jahil ke kondisi yang lebih islami, hijrah dari rasa malas ke rajin, dan masih banyak lagi.

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan RasulNya kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah maha Pengampun, maha Penyayang).”—QS. AnNisa:100

Tidak mudah memang beradaptasi dengan keadaan yang baru, di mana kita sudah sangat terbiasa dengan lingkungan kita, sebut saja zona nyaman kita. Jangan khawatir, kawan,  perasaan seperti itu akan hilang dengan sendirinya. Ada yang bilang “Seseorang yang keluar dari zona nyamanya adalah salah satu ciri orang sukses”, jadi nikmatilah setiap prosesnya dan cobalah berdamai dengan keadaan seburuk apapun itu. Allah tidak akan menguji hambanya diluar batas kemampuannya bukan??

“Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halamannya. Tinggalkan negerimu dan merantaulah. Merantaulah ke negeri orang, maka Kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang,”–İmam Syafii

Ketika seseorang ingin berhijrah, point penting yang harus dilakukan adalah meluruskan niat dan terus memperbaharuinya. Ketika memutuskan untuk kuliah di luar negeri, alangkah baiknya kalau kita meluruskan niat bahwa kita ingin menimba ilmu di sana. Jalan-jalan keliling Eropa, belanja barang-barang branded yang tidak bisa ditemui di negeri sendiri, dan lain sebagainya, anggaplah sebagai reward yang kita dapatkan, bukan sebagai tujuan utama kita.

Suatu ketika sebelum Aku memutuskan untuk berangkat ke luar negeri, para tetua (orang-orang yang masih beranggapan bahwa perempuan hanyalah konco wingking) berkata padaku “Anak cewek kok kuliah jauh-jauh, ntar juga ujung-ujungnya cuma di dapur,” pemikiran seperti inilah yang menyebabkan perempuan tertinggal jauh di belakang. Menimba ilmu itu wajib hukumnya untuk setiap muslim laki-laki dan perempuan, toh kedudukan manusia dimata Allah tidak memandang gender. Setiap manusia, baik itu laki-laki atau perempuan mempunyai kemampuan yang luar biasa, alangkah baiknya kalau kemampuan tersebut dapat bermanfaat juga untuk orang lain, bukan hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Bukankah Rasul telah bersabda, “Sampaikanlah walau satu ayat.”

Salah satu penyebab lain mengapa Aku memutuskan untuk berhijrah adalah karena Aku ingin mendapatkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa Aku dapatkan jika menimba ilmu di negaraku. Bukan, bukan kualitas pendidikan yang Aku maksud, kawan. Ada sesuatu hal yang lebih berharga dari itu. Sesuatu hal yang tidak dapat diwariskan, sesuatu hal yang timbul beriringan dengan kedewasaan kita. Yup, tepat sekali, sesuatu itu adalah kemandirian. Entah kenapa, kurang lebih dua tahun Aku tinggal di sini, Aku merasakan hal yang berbeda antara Aku yang dulu dengan Aku yang sekarang. Level kemalasanku yang tadinya stadium empat, kini dengan bangga Aku katakan telah turun menjadi stadium satu. “Allahuma paksain”, petuah dari guru SMA ku itu entah kenapa selalu membayang-bayangiku semenjak Aku di sini. “Kekuatan tersembunyi dari orang yang terdesak itu sangat tak terduga”, Aku sependapat dengan ungkapan ini. Banyak hal-hal yang sebelumnya tak pernah terfikir olehku untuk melakukannya, cenderung takut melakukannya ternyata dapat aku lalui dengan mudah. Aku pun sadar bukan ketidakbisaan yang menghalangi kita untuk melakukan sesuatu, ketakutanlah yang selama ini membayangi kita ketika ingin melakukan sesuatu tersebut. Kuncinya adalah, percaya pada kemampuan diri sendiri dan jangan takut untuk mencoba hal yang baru (dalam hal positif tentunya). Aku yang kekanak-kanakkan secara perlahan dan pasti mulai menjadi Aku yang dewasa. Ketidakdewasaanku dulu disebabkan persepsi yang salah, ketika dirundung masalah Aku yang dulu selalu menangis, mengumpat sejadi-jadinya seolah masalah tersebut akan mengakhiri hidupku, dan selalu mengeluh “Ya Allah, Aku ada masalah”. Aku yang sekarang lebih bisa menjaga emosi, mencoba bersikap tenang, mencoba berdamai dengan keadaan meskipun tak dapat dipungkiri bahwa hati ini sebenarnya was-was juga,. Dan ketika masalah muncul, dengan tenang Aku berkata, “Masalah, Aku ada Allah kok”, sebuah ungkapan optimis bahwa masalah datang untuk menaikkan level kedewasaan kita.

Aku yang zero pun kini mulai berusaha untuk dapat naik level ke tahap hero. Eits, jangan berlebihan menganggap Aku akan menyelamatkan dunia seperti hero-hero pada umumnya. Bedanya, Aku cukup merasa hebat dengan hal-hal yang Aku telah kerjakan.

Aku cukup merasa hebat ketika aku berhasil membetulkan resleting tas mungilku tanpa harus ke tukang servis

Aku cukup merasa hebat ketika aku berhasil memisahkan kepala ikan dari tubuhnya untuk Aku masak (meskipun sambil menitikkan air mata, >.<)

Aku cukup merasa hebat ketika berhasil memasukkan beberapa buah cabe ke mulutku (perlu diketahui, Aku termasuk orang yang tidak bisa kompromi dengan rasa pedas)

Salah satu hal penting lainnya ketika diperantaun adalah saling menguatkan dan mendukung antar sesama teman. Merekalah keluarga kita sekarang, tempat kita mengadu, berbagi, meminta nasehat, dan sebagainya. Bersama mereka kita memulai start, dan bersama mereka pulalah hendaknya kita mencapai finish, jangan sampai ada teman yang luput dari perhatian kita, di mana dia jauh tertinggal di belakang.

by:  Nafiatul Ummahati, Mahasiswi Selcuk University

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s